Oleh: Ustadz Jamaluddin Daeng Sarro
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dinamika kepemimpinan adalah hal yang wajar. Namun bagi umat Islam, ketika muncul “mosi tidak percaya” di antara sesama muslim, itu sejatinya bukan sekadar urusan politik atau jabatan. Ia adalah tanda mulai memudarnya rasa jamaah — ibarat makmum yang memprotes imam bukan karena kesalahan syar’i, melainkan karena perbedaan pandangan dan hawa nafsu.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebersamaan (jamaah) adalah sumber kekuatan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tangan Allah bersama jamaah.” Maka, jika di antara umat saling mencurigai, saling menjatuhkan, bahkan saling menuduh, sesungguhnya iblis telah berhasil menanamkan pengaruhnya — memecah barisan yang seharusnya kokoh.
Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:
“Wa‘taṣimū biḥabli llāhi jamī‘an wa lā tafarraqū.”
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan dan larangan untuk bercerai-berai. Dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi dalam pemerintahan dan pekerjaan, pimpinan dan karyawan, pejabat dan rakyat, harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Jangan sampai ada pengaruh iblis atau faktor eksternal yang membawa kepentingan politis, karena pada akhirnya kebersamaan dan persatuan bisa pecah.
Sebagai sesama muslim, marilah kita kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah. Semua persoalan hendaknya diselesaikan dengan musyawarah, bukan dengan amarah. Allah juga berfirman:
“Wa amruhum syūrā bainahum.”
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)
Kasihan daerah kita jika tercerai-berai hanya karena ego dan kepentingan sesaat. Sebelum bertindak, perbanyaklah zikir dan doa agar Allah SWT memberikan petunjuk serta ridha-Nya.
Hidup ini sementara, jabatan dan pekerjaan ada batas waktu. Namun persahabatan dan persaudaraan sesama muslim adalah selamanya. Jika kita ingin memperjuangkan sesuatu, lakukanlah dengan cara yang bermakna dan bernilai ibadah bukan dengan ghibah, riya, atau kemunafikan.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari perpecahan dan menuntun langkah kita dalam kebersamaan yang diridhai-Nya.










