TERAS, GOWA – Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Gowa dalam rangka Hari Jadi Gowa ke-705 berlangsung meriah namun sarat dinamika politik, Jumat siang. Forum resmi yang digelar setiap tahun itu menghadirkan pidato panjang Ketua DPRD dan orasi Bupati Gowa yang menjadi pusat perhatian, Minggu (16/11/2025).
Sejak palu sidang diketuk, suasana forum langsung dipimpin penuh oleh Ketua DPRD Gowa, H. Muh Ramli Siddik, S.Sos (Daeng Rewa) yang membuka paripurna dengan pidato bernada reflektif sekaligus kritis. Ia menegaskan bahwa peringatan hari jadi bukan hanya soal sejarah, tetapi momen menguji konsistensi kerja pemerintah. “Peringatan ini bukan nostalgia. Ini evaluasi besar,” ujarnya.
Ramli, begitu ia biasa disapa, memulai dengan daftar panjang tokoh yang ia sapa satu per satu. Dari unsur Forkopimda, mantan pejabat, akademisi, hingga tokoh adat. Sapaan itu membuat forum terasa cair, namun tak mengurangi ketegasan pidatonya.
Dalam bagian awal, Ramli menegaskan marwah DPRD sebagai lembaga pengawas yang tidak boleh terjebak dalam peran seremonial. “Kalau legislatif hanya mengangguk, itu bukan DPRD. Itu ornamen,” katanya disambut tepuk tangan.
Ia kemudian menyinggung dinamika pembahasan anggaran 2024–2025 yang menurutnya cukup menguras energi. Ramli menyebut ada program prioritas yang perlu kejelasan indikator. “Tanpa ukuran, pembangunan hanya jadi tumpukan laporan,” ujarnya.
Dalam pidatonya di Rapat Paripurna Istimewa, Ramli menyoroti kualitas proyek infrastruktur yang masih menjadi keluhan warga. Ia mengatakan DPRD menerima banyak laporan soal pengerjaan fisik yang dinilai tidak sesuai standar. “Kita tidak mau lagi istilah ‘asal selesai’. Rakyat butuh manfaat, bukan sekadar proyek,” katanya.
Ketua DPRD itu juga menyinggung perlunya efisiensi belanja daerah. Ia menilai sejumlah pos belanja operasional masih terlalu besar dibanding belanja modal. “Efisiensi bukan penghematan buta. Ini tentang memastikan uang rakyat bekerja maksimal,” ujarnya.
Ramli kemudian mengeluarkan salah satu kutipan terkuatnya, “DPRD Gowa bukan lawan pemerintah, tapi kami juga bukan perpanjangan tangan. Kami pengawas yang diberi mandat rakyat. Itu garis merahnya.”
Ia melanjutkan dengan menyoroti ketertutupan beberapa OPD dalam memberikan data kepada DPRD. Menurutnya, kondisi itu menghambat fungsi pengawasan. “Transparansi adalah hak publik, bukan kemurahan hati pemerintah,” katanya.
Selain isu pemerintahan, Ramli memberi perhatian besar pada kondisi sosial masyarakat. Ia menyebut meningkatnya tingkat pengangguran sebagai pengingat bahwa pemerintah harus memperkuat kebijakan penciptaan lapangan kerja. “Rakyat tidak hidup dari slogan. Mereka butuh pekerjaan,” ujarnya.
Meski keras, Ramli tetap memberi apresiasi kepada pemerintah daerah atas sejumlah capaian, terutama penurunan angka kemiskinan. “Ada progres, dan itu harus kita akui. Tapi kita tidak boleh berpuas diri,” katanya.
Setelah tiga perempat forum didominasi oleh orasi Ketua DPRD, giliran Bupati Gowa menyampaikan pidato tahunan yang telah diatur secara resmi dalam Perda Hari Jadi Gowa. Bupati Husniah Talenrang tampil dengan gaya lebih tenang dan berbasis data.
Bupati membuka orasinya dengan mengapresiasi DPRD atas hubungan kemitraan selama setahun terakhir. “Kritik adalah vitamin demokrasi. Saya menghormati setiap masukan DPRD,” ujarnya.
Bupati Gowa, Dr. Hj. Husniah Talenrang, S.E., M.M mengawali pidato substantifnya dengan mengingatkan kembali nilai-nilai keberanian para leluhur Gowa, terutama sosok Sultan Hasanuddin. Ia mengutip ungkapan “Bila perahu telah ku dorong, layar telah berkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang ku tuju”, yang ia sebut sebagai pedoman kepemimpinannya
Ia lalu memaparkan kondisi makro daerah. Pertumbuhan ekonomi Gowa, katanya, terus menunjukkan tren positif dan mencapai 7,68% pada triwulan kedua 2025. “Pertumbuhan bukan sekadar angka. Ini cermin kerja kolektif kita,” ucapnya.
Namun ia tidak menutup mata terhadap naiknya angka pengangguran terbuka. “Ini tantangan yang harus kita jawab. Bukan tanda kegagalan, tetapi sinyal perbaikan,” ujarnya.
Bupati menjelaskan bahwa penurunan angka kemiskinan menjadi salah satu capaian penting tahun ini, disertai perbaikan gini rasio yang menunjukkan pemerataan semakin baik. “Pertumbuhan yang tidak merata bukanlah kemajuan. Pemerataan adalah jantung pembangunan,” katanya.
Ia juga menyinggung rencana memperluas kawasan ekonomi berbasis UMKM dan memprioritaskan pelatihan vokasi. “Kita harus memastikan anak muda Gowa siap menghadapi dunia kerja masa kini,” ujarnya.
Dalam salah satu kutipan kuncinya, Bupati berkata, “Masa depan Gowa ditentukan bukan oleh besar anggarannya, tetapi oleh ketepatan penggunaan anggaran itu.”
Bupati menutup orasinya dengan ajakan menjaga kebersamaan. Ia menyebut nilai keberanian dan solidaritas yang diwariskan para leluhur Gowa sebagai modal besar membangun masa depan. “Gowa kuat karena persatuan. Ini harus kita jaga,” ujarnya.
Rapat paripurna kemudian ditutup oleh pimpinan sidang setelah melalui seluruh agenda. Di luar gedung, para undangan menilai forum hari jadi kali ini memperlihatkan dua gaya kepemimpinan yang kontras namun saling melengkapi.
Ketua DPRD tampil tegas dengan retorika politik yang kuat, sementara Bupati menyajikan data dan arah kebijakan secara terstruktur. Dua pendekatan berbeda yang memperlihatkan bagaimana dinamika pemerintahan daerah berjalan dalam keseimbangan.
Bagi sebagian pengamat lokal, paripurna ke-705 ini bukan hanya laporan tahunan, tetapi indikator arah politik dan pembangunan Gowa di tahun mendatang. Forum itu memperlihatkan bagaimana kritik, pujian, dan kolaborasi saling bersilang dalam satu ruang.
Pada akhirnya, paripurna Hari Jadi Gowa ke-705 menggarisbawahi satu pesan, masa depan Gowa dibangun bukan oleh satu pihak, tetapi oleh kerja bersama antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat. Sebagaimana kutipan penutup Ketua DPRD, “Gowa ini bukan milik pejabat, tapi milik rakyat. Kita hanya dititipi.”










