Surat Cinta di Penghujung Tahun

  • Bagikan
Pengamat Kebijakan Publik dan Budaya, H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung, (Foto.ist).

TERAS, GOWA – Beberapa hari lagi, kalender akan berganti. Tahun baru akan datang membawa harapan, sekaligus meninggalkan jejak-jejak cerita yang tak semuanya mudah dilupakan. Di penghujung tahun ini, kami belajar satu hal yang sangat berharga, bahwa kebaikan tidak pernah membutuhkan silsilah, tidak pula bertanya asal-usul. Ia hanya butuh ketulusan-ketulusan yang melampaui batas wilayah, perbedaan suku, dan sekat-sekat yang sering kali kita ciptakan sendiri.

Menjadi orang baik bukan berarti berdiri tanpa cacat. Sebaliknya, kebaikan justru lahir dari kesadaran akan keterbatasan diri. Ia hadir ketika seseorang tahu kapan harus menurunkan ego, meletakkan beban, dan memilih tidak merugikan orang lain meski dirinya sendiri sedang lelah. Di sanalah nilai kemanusiaan menemukan maknanya.

Di titik ini, izinkan kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada saudara-saudara, para sahabat, dan keluarga baik yang dekat maupun yang tak pernah bersua yang masih berdiri bersama kami hingga detik ini. Terima kasih karena telah menjadi alasan kami untuk kembali tersenyum, bahkan ketika keadaan tak selalu ramah.

Kami juga memohon maaf atas segala kekurangan, atas kata yang mungkin melukai, sikap yang mungkin mengecewakan, dan langkah yang belum sempurna. Namun percayalah, setiap doa, dukungan, dan niat baik yang Anda titipkan telah menjadi energi yang menguatkan perjalanan ini.

Mungkin kita belum pernah berjabat tangan, belum pernah saling menatap mata, tetapi doa-doa atas semua kebaikan Anda akan selalu terpatri di dalam dada kami. Ada rasa hangat yang tak bisa dijelaskan dengan logika, selain keyakinan bahwa kemanusiaan masih hidup dan tumbuh di antara kita.

Seperti lirik lagu Letto yang menemani perjuangan ini: “Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahaya?”

Baca Juga  Ratusan Jemaah Hadiri Safari Subuh di Masjid Al Barkah Kota Pare-pare

Bagi kami, Anda semua adalah embun itu yang hadir dalam diam, sederhana, namun memberi kehidupan sebelum terang datang.

Di akhir tahun ini, biarlah surat cinta ini menjadi pengakuan jujur bahwa kami tidak berjalan sendiri. Ada banyak tangan yang tak terlihat, namun nyata menopang langkah. Semoga tahun yang akan datang membawa lebih banyak kebaikan, keikhlasan, dan keberanian untuk terus menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

 

Arigatou.

Saleum takzimku.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *