Ketika Label Abal-Abal Justru Menguji Kredibilitas Pemberinya

  • Bagikan

Belakangan ini, kata “abal-abal” kembali ramai diperbincangkan.

Bukan karena kamus tiba-tiba berubah, melainkan karena ada pihak yang dengan cukup percaya diri melontarkan ke ruang publik, seolah-olah sedang membagikan label kualitas.

Padahal, dalam pengertian umum, abal-abal adalah istilah yang merujuk pada sesuatu yang tidak jelas mutu, asal-usul, atau keasliannya. Bisa barang tiruan, dokumen meragukan, hingga sesuatu yang tampil meyakinkan di permukaan, tapi ketika diperiksa lebih dekat ternyata… ya, agak “tipis bro”.

Dalam percakapan sehari-hari, kata ini sering dipakai dengan gaya santai. Di warung kopi, orang menyebut sepatu KW sebagai abal-abal. Di pasar, orang menyebut produk murah meriah yang cepat rusak juga abal-abal.

Masalahnya, ketika kata itu dipakai dalam ruang publik, apalagi oleh pihak yang mengklaim diri sebagai sumber informasi dan maknanya berubah dari candaan menjadi stempel penilaian. Dan di situlah sindirannya terasa.

Sebab biasanya, sebelum seseorang berani menyebut yang lain abal-abal, publik justru akan bertanya balik.

Siapa yang memberi label, dan seberapa kuat dasar penilaiannya?

Di dunia jurnalistik misalnya, kredibilitas tidak dibangun dari menjuluki pihak lain, melainkan dari ketelitian, verifikasi, dan etika pemberitaan.

Karena itu, ketika kata abal-abal dilempar begitu saja, sering kali yang terjadi justru efek bumerang bahwa publik mulai menilai cara berpikir dan cara berkomunikasi si pemberi label.

Ironisnya, kata yang awalnya dimaksudkan untuk merendahkan pihak lain kadang justru memperlihatkan kualitas argumentasi yang… juga terasa agak abal-abal.

Di sinilah publik biasanya hanya bisa tersenyum tipis. Sebab dalam dunia informasi, reputasi tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras memberi cap, tetapi oleh siapa yang paling konsisten menjaga akurasi dan etika.

Baca Juga  Napak Tilas I Bangkailong di Segeri, Pemerhati Soroti Nilai Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal

Jadi sebelum terlalu mudah melontarkan kata abal-abal, mungkin ada baiknya bercermin lebih dulu.

Karena dalam banyak kasus, kata itu tidak hanya menggambarkan objek yang dituju, tetapi juga cara berpikir orang yang mengucapkan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *