Cibiru Wetan Masih Membutuhkan Kepemimpinan Hadian Supriatna

  • Bagikan
Fadli Maulana Hasan Seorang Aktivis Pemuda Desa Cibiru Wetan, Kec. Cileunyi Kab.Bandung.

Oleh: Fadli Maulana Hasan

Suksesi kepemimpinan desa merupakan keniscayaan dalam sistem demokrasi. Pergantian pemimpin bukan sekadar agenda rutin lima atau delapan tahunan, melainkan momentum strategis untuk menentukan arah masa depan desa. Menjelang berakhirnya masa jabatan Kepala Desa Hadian Supriatna pada November 2027 sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 masyarakat Desa Cibiru Wetan dihadapkan pada pertanyaan penting: apakah estafet kepemimpinan perlu berganti, atau justru dilanjutkan?

Menjawab pertanyaan tersebut tentu tidak cukup dengan pendekatan emosional atau sekadar preferensi pribadi. Yang dibutuhkan adalah penilaian objektif berbasis rekam jejak, capaian kinerja, serta dampak nyata bagi masyarakat.

Selama masa kepemimpinannya, Hadian Supriatna telah menunjukkan konsistensi dalam menghadirkan kemajuan desa. Berbagai prestasi berhasil diraih, tidak hanya di tingkat kabupaten dan provinsi, tetapi juga hingga mewakili Indonesia dalam forum internasional seperti ASEAN Village Network. Hal ini menjadi indikator bahwa Cibiru Wetan tidak hanya berkembang, tetapi juga diakui sebagai model desa yang inspiratif.

Capaian Indeks Desa tahun 2025 yang menempatkan Cibiru Wetan sebagai yang tertinggi di Kabupaten Bandung bahkan Jawa Barat menjadi bukti konkret keberhasilan tata kelola yang dijalankan. Lebih dari itu, deretan prestasi di tingkat nasional semakin memperkuat legitimasi keberhasilan tersebut. Cibiru Wetan tercatat sebagai Pelaksana Terbaik Keterbukaan Informasi Publik tingkat nasional, meraih predikat Desa Pangan Aman tingkat nasional, serta diakui sebagai Desa Peduli Pendidikan tingkat nasional.

Tak hanya itu, Cibiru Wetan juga berhasil meraih Juara 1 Lomba Desa tingkat nasional, sebuah capaian prestisius yang mencerminkan keunggulan secara menyeluruh dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan desa. Dalam aspek integritas, desa ini bahkan memperoleh pengakuan sebagai Desa Anti Korupsi kategori istimewa dari KPK, yang menunjukkan komitmen kuat terhadap transparansi dan akuntabilitas.

Baca Juga  Paguyuban Desa Bukan Alat Politik, Tegakkan Marwah Organisasi dengan Integritas dan Kepatutan

Di bidang inovasi dan teknologi, capaian Juara 2 Posyantek tingkat nasional untuk inovasi ketahanan pangan serta Juara 2 Desa Digital tingkat nasional menjadi bukti bahwa Cibiru Wetan tidak hanya maju secara administratif, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Sementara itu, penghargaan Juara 2 Anugerah Gapura Sri Baduga semakin menegaskan posisi desa ini sebagai salah satu desa terbaik di Jawa Barat.

Lebih dari sekadar prestasi, pendekatan pembangunan yang diterapkan tidak bersifat parsial. Melalui konsep sirkular ekonomi desa berbasis BUMDes, pemberdayaan masyarakat khususnya Kelompok Wanita Tani dijalankan secara terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan. Program CIBERSTANA (Cibiru Wetan Bersih Sampah Tanggung Jawab Bersama) menjadi contoh nyata bagaimana partisipasi masyarakat dapat digerakkan secara kolektif.

Di sektor pelayanan dasar, komitmen terhadap kesehatan dan pendidikan juga terlihat jelas. Penguatan Posyandu, Pos PAUD, Desa Siaga, hingga layanan ambulans desa menunjukkan keberpihakan pada kebutuhan fundamental masyarakat. Tidak hanya itu, perhatian terhadap lansia dan penyandang disabilitas pun menjadi bagian dari kebijakan inklusif yang patut diapresiasi.

Dalam bidang sosial-keagamaan dan budaya, dukungan terhadap kegiatan pengajian, beasiswa bagi penghafal Al-Qur’an, serta pelestarian seni budaya lokal menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas dan nilai-nilai masyarakat. Sementara itu, keterlibatan aktif pemuda juga terus didorong melalui berbagai kegiatan kreatif dan produktif.

Keberhasilan tersebut tentu tidak lepas dari kemampuan membangun kolaborasi. Dengan pendekatan pentahelix melibatkan pemerintah, DPRD, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat Cibiru Wetan mampu mempercepat pembangunan infrastruktur dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Tentu harus diakui, tidak ada kepemimpinan yang tanpa kekurangan. Kritik dan evaluasi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pemerintahan desa. Namun demikian, jika menimbang capaian, konsistensi, serta arah pembangunan yang telah diletakkan ditopang oleh berbagai prestasi di tingkat nasional maka figur Hadian Supriatna masih sangat relevan untuk melanjutkan kepemimpinan di periode berikutnya.

Baca Juga  Ketika Label Abal-Abal Justru Menguji Kredibilitas Pemberinya

Penting untuk ditegaskan bahwa pandangan ini tidak dimaksudkan untuk menutup ruang demokrasi. Pilkades 2027 tetap harus menjadi ajang terbuka bagi siapa pun yang memiliki kapasitas dan gagasan untuk membangun desa. Kompetisi yang sehat justru akan memperkaya pilihan masyarakat.

Namun pada akhirnya, demokrasi yang matang adalah demokrasi yang mampu menilai secara rasional: siapa yang telah bekerja, siapa yang terbukti mampu, dan siapa yang paling layak melanjutkan.

Dalam konteks itu, Cibiru Wetan hari ini bukan hanya desa yang maju, tetapi juga desa yang memiliki fondasi kuat untuk masa depan. Dan untuk menjaga kesinambungan tersebut, melanjutkan kepemimpinan yang sudah terbukti sering kali menjadi pilihan paling bijak.

Cibiru Wetan tidak hanya membutuhkan pemimpin baru, tetapi lebih dari itu membutuhkan pemimpin yang tepat. Dan hingga saat ini, sosok itu masih melekat pada figur yang sama.

  • Bagikan

Respon (1)

  1. Tetep lanjutkan di periode mendatang pak kades HADIAN SUPRIATNA,saya sebagai warga yang sudah ikut merasakan dan menyaksikan keberhasilan sosok kepemimpinan yang selama ini bapak pimpin yg begitu banyak segudang prestasi hingga go internasional penghargaan dan juara yang di raih desa CIBIRU WETAN,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *