HAR: Nasehat Itu Seperti Kopi, Kadang Pahit Tapi Menyadarkan

  • Bagikan

Oleh: Hasrul Abdul Rajab (Wakil Ketua DPRD Gowa) 

GOWA – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada dua pilihan, menerima kenyamanan semu atau menghadapi kenyataan yang kadang terasa pahit.

Sebagaimana secangkir kopi, rasa pahitnya justru memberi kesadaran dan energi baru untuk melanjutkan hari. Begitu pula dengan nasehat. Tidak semua nasehat terdengar manis di telinga, namun di balik kepahitannya tersimpan kebenaran yang mampu membuka mata dan menyadarkan hati.

Sebagai wakil rakyat, saya belajar bahwa politik dan pemerintahan tidak hanya berbicara soal strategi, jabatan, atau kepentingan. Lebih dari itu, keduanya adalah ruang pengabdian.

Dalam ruang ini, kritik dan nasehat adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan. Kritik seringkali terasa seperti tegukan kopi hitam pahit, keras, bahkan menyinggung perasaan.

Namun, jika kita mampu meminumnya dengan hati yang lapang, kritik itu akan memberi kesadaran baru dan menjadi pengingat agar kita tidak lupa pada amanah rakyat.

Politisi yang hanya ingin mendengar pujian ibarat pecandu gula dalam kopi menikmati rasa manis sesaat tetapi melupakan keaslian dan kejujuran rasa. Padahal, kepemimpinan yang sehat lahir dari keseimbangan antara apresiasi dan koreksi.

Kita perlu membuka telinga selebar lebarnya, menerima saran, dan menampung kritik, karena dari situlah tercipta kebijakan yang lebih matang dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Masyarakat hari ini membutuhkan pemimpin yang berani mendengar, bukan hanya pintar berbicara. Nasehat yang datang dari rakyat, akademisi, tokoh masyarakat, maupun rekan sejawat, adalah bagian dari energi politik yang mendorong lahirnya perubahan.

Jika kita menutup diri dari nasehat, maka ibarat menolak kopi di pagi hari: kita akan kehilangan kesempatan untuk terjaga dan lebih waspada dalam menjalani hari.

Baca Juga  Ketika Mosi Tidak Percaya Menabrak Hukum

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap nasehat meski pahit sekalipun—sebagai cermin untuk memperbaiki diri dan langkah kita ke depan. Karena dalam dunia politik, kepahitan bukanlah akhir, melainkan awal dari kesadaran baru yang akan melahirkan kebijakan yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Seperti kopi yang menumbuhkan semangat, nasehat pun seharusnya menumbuhkan kebijaksanaan. Tugas kita adalah meminumnya dengan lapang dada, lalu mengubah energi pahit itu menjadi kerja nyata bagi kesejahteraan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *