MAKASSAR – Suasana penuh hikmah terasa di Ballroom Hotel Claro Makassar, Sabtu (20/9), saat ratusan jamaah menghadiri kajian seminar bertajuk “Menata Hati: Belajar Menerima Takdir”. Acara ini menghadirkan penceramah nasional, Ustadz Hilman Fauzi, yang membawakan materi mendalam tentang pentingnya sikap ridha dan ikhlas dalam menjalani kehidupan.
Salah seorang peserta, Ustadz H. Jamaluddin Dg. Sarro, mengungkapkan kesan mendalamnya. Menurutnya, seminar ini memberi pemahaman bahwa menerima takdir bukan sekadar pasrah, melainkan bentuk keimanan yang harus dihidupkan dalam hati. “Saya merasakan betul bahwa ridha adalah kunci ketenangan. Ustadz Hilman menjelaskan dengan rinci bahwa siapa yang ridha, maka Allah akan meridhainya. Itu menjadi penguatan bagi saya pribadi dan tentu jamaah yang hadir,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ustadz Hilman Fauzi mengutip firman Allah dalam QS. Al-Fajr ayat 27–30: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Ayat ini menjadi dasar bahwa keridhaan Allah hanya bisa diraih dengan hati yang ridha pada ketentuan-Nya. Beliau juga menjelaskan secara sistematis 12 tahapan kehidupan manusia mulai dari alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam kubur (barzakh), alam kiamat hingga yaumul jaza’ yaitu kehidupan abadi di akhirat.
Penjelasan runtut ini membuat jamaah semakin menyadari bahwa perjalanan hidup manusia sepenuhnya berada dalam genggaman Allah.
Ustadz Hilman menekankan bahwa orang yang mampu menerima takdir dengan lapang dada akan memperoleh banyak keutamaan, antara lain: ketenangan hidup, keselamatan di akhirat, hikmah dari setiap peristiwa, serta petunjuk di tengah kesulitan.
“Mengharap pada manusia hanya akan membawa patah hati. Tetapi ketika kita hanya berharap pada Allah, hati akan diliputi ketenteraman,” jelasnya.
Lebih jauh, ia membedakan makna ridha dan ikhlas. “Ridha adalah saat menerima, sementara ikhlas adalah saat melepaskan. Dua hal ini harus berjalan bersama, karena ridha mengajarkan kita untuk menerima apa adanya, dan ikhlas melatih hati agar tidak terikat pada apa yang telah pergi,” tutur Ustadz Hilman.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan doa yang diajarkan dalam QS. Al-Kahf ayat 10:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Doa ini, menurutnya, menjadi pegangan saat manusia berada dalam kesulitan hidup.
Bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan, Ustadz Hilman memberikan nasihat penuh makna: tidak ada yang benar-benar hilang, karena semua yang diambil Allah hanyalah titipan. Kehilangan justru menjadi cara Allah menyiapkan hati untuk lebih ikhlas dan bergantung hanya kepada-Nya.
Acara yang berlangsung hingga sore hari itu meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Inti dari kajian ini, sebagaimana dirangkum oleh Ustadz Hilman Fauzi, adalah bahwa menerima takdir merupakan bagian dari iman.
Dengan ridha seseorang mendapat ketenangan, dengan ikhlas ia mampu melepas, dan dengan keduanya ia akan meraih keridhaan Allah serta surga-Nya.
“Bagi saya pribadi, pesan ini sangat menyejukkan. Kajian ini mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengubah kenyataan, tapi bisa mengubah cara pandang kita terhadap kenyataan. Itulah yang membuat hati menjadi lapang,” pungkas Ustadz H. Jamaluddin Dg. Sarro.










