Air Mata di Hari Ibu, Doa untuk Ayah di Surga

  • Bagikan
H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung bersama Sang Ibu, (Foto.kenangan).

Oleh: H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung

Hari Ibu selalu datang membawa rasa yang berbeda. Bagi sebagian orang, ia adalah hari penuh bunga, pelukan, dan ucapan terima kasih. Namun bagi kami yang telah kehilangan ayah, Hari Ibu kerap hadir dengan air mata yang diam-diam jatuh, dengan doa-doa yang terucap lirih, dan dengan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Ayah telah lebih dulu dipanggil oleh Sang Khalik. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan ruang kosong di rumah, tetapi juga di hati kami. Namun, di tengah kehilangan itu, ibu tetap berdiri. Ia tidak banyak bicara tentang lelahnya, tidak sering mengeluh tentang perihnya kehilangan pasangan hidup. Ibu memilih diam, bekerja, berdoa, dan mencintai anak-anaknya dengan cara yang lebih dalam dari sebelumnya.

Sejak ayah tiada, ibu menjelma menjadi segalanya. Ia menjadi ibu yang tetap lembut, sekaligus ayah yang tegar. Ia menjadi tempat bertanya, tempat bersandar, dan tempat pulang. Di wajahnya, kami belajar arti kesabaran. Di langkahnya yang perlahan namun pasti, kami melihat makna keteguhan hidup.

Hari Ibu bagi kami bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat akan pengorbanan yang tak terhitung. Ibu tidak hanya kehilangan suami, tetapi juga harus memikul beban keluarga seorang diri. Dalam sunyi malam, mungkin air matanya jatuh tanpa suara. Namun di pagi hari, ibu tetap bangkit, tersenyum, dan memastikan anak-anaknya melangkah dengan baik.

Kami sering lupa bahwa ibu juga manusia. Ia punya rasa rindu, takut, dan lelah. Tetapi ibu mengajarkan kami bahwa cinta sejati adalah tentang bertahan, bukan menyerah. Tentang terus melangkah, meski hati remuk oleh kehilangan. Tentang mendidik anak-anaknya agar tetap menghormati ayah yang telah pergi, dengan doa-doa yang tak pernah putus.

Baca Juga  Golkar dan Seni Bertahan di Tengah Perubahan Kekuasaan

Di Hari Ibu ini, air mata yang jatuh bukan hanya karena rindu kepada ayah, tetapi juga karena kagum kepada ibu. Kagum pada kekuatan yang lahir dari cinta. Kagum pada ketegaran yang tumbuh dari iman. Ibu mengajarkan kami bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi harus tetap dijalani dengan penuh syukur.

Kami mengirimkan doa untuk ayah di surga. Semoga segala amal ibadahnya diterima, segala khilafnya diampuni, dan tempat terbaik disediakan baginya. Dan untuk ibu, doa kami lebih panjang: semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, kesabaran, dan kebahagiaan. Semoga setiap tetes air mata yang pernah jatuh diganti dengan ketenangan dan keberkahan hidup.

Hari Ibu adalah momentum untuk merenung. Bahwa di balik senyum seorang ibu, sering tersimpan luka yang tak terucap. Bahwa di balik ketegaran seorang ibu, ada cinta yang tak pernah meminta balasan. Dan bahwa kehilangan ayah bukan akhir dari segalanya, karena ibu hadir sebagai bukti bahwa cinta bisa terus hidup, bahkan setelah kepergian.

Untuk seluruh ibu yang bertahan setelah kehilangan, yang membesarkan anak-anaknya dalam sunyi dan doa, Hari Ibu adalah milik kalian sepenuhnya. Kalian adalah pahlawan sejati yang jarang disebut, tetapi jasanya hidup selamanya di hati anak-anakmu.

Selamat Hari Ibu.

Air mata hari ini adalah doa, dan doa itu kami kirimkan untuk ayah di surga, serta untuk ibu yang tetap setia menjaga cinta di dunia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *