Dianiaya dipondok Pesantren Hingga Muka Lebam, Tak Dapat Keadilan dan Tanggung Jawab

  • Bagikan

Teras, Takalar _ Maraknya terdengar kisah pilu para penuntut ilmu dipondok pesantren (ponpes) kini terbilang tercoreng, karena tingkat keamanan ponpes tidak aman, seperti santri bernama Mustakim (16) menjadi kebrutalan teman dan oknum guru, dipondok Darul Ulum Amiral Ahmad, mengakibatkan muka lebam mata nyaris buta akibat dianiaya, tidak mendapatkan keadilan dan tanggung jawab pihak ponpes. Senin (27/4/2026)

 

 

Ponpes yang terletak di desa Pakka’ba, Kecamatan Galesong Utara, Kecamatan Takalar, kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi peristiwa kekerasan terhadap santri. hingga kini baru terungkap dikarenakan viralnya gambar korban di sosial media (sosmed), Terhadap santri Mustakim yang dikeroyok hingga muka lebam membiru dibawah mata.

 

 

Kasus ini baru diungkap pihak keluarga korban karena pihak ponpes dan keluarga pelaku tidak ada tanggung jawab terhadap korban, yang mengalami luka parah hingga diopname di rumah sakit, padahal kasus ini sudah terjadi empat bulan lalu, ungkap Ibu korban Suhartini, saat ditemui wartawan Teraskota.info dikediamannya.

 

 

Kasus diduga karena korban baru diberi amanah sebagai ketua OSIS diponpes, dengan amanah tersebut korban diberi tugas untuk mengatur semua santri untuk bertugas membersihkan, dari korban menegur rekannya berinisial (LM) terkait jadwal piket kebersihan di kelas. Namun, pelaku tidak terima hingga sempat terjadi adu mulut di antara keduanya.

 

 

“Saya diberikan tugas untuk mengatur siapa yang membersihkan karena saya Ketua OSIS, (pelaku) yang tidak terima langsung mengajak temannya yang lain untuk mengkroyok korban, ucap Suhartini.”

 

 

Ketidak senangan pelaku berlanjut hingga malam hari saat para santri berada di dalam kamar asrama yang dihuni delapan orang. Pelaku kemudian diduga menghasut rekannya yang lain berinisial (I) dan (MK) untuk memukul korban di dalam kamar tersebut.

Baca Juga  Hari Kedua Pencarian Pesawat ATR 400, Tim SAR Gabungan Temukan Serpihan Badan Pesawat

 

 

Saat dipukul oleh (LM), korban berupaya menyelamatkan diri dengan berlari keluar pondok dan meminta tolong kepada seorang bapak yang hendak melintas dan mencoba menolong korban, dan ingin membantunya sebagai keluarga korban.

 

 

“Jadi saya lari keluar waktu dikerjaka, ada bapak naik motor yang saya minta tolongin karena mauka dibunuh pak, ungkap Mustakim sambil berbaring”

 

 

“Waktu saya masukmi sama bapak itu, saya menuju kantor langsung ada guru (AM) dengan berkata kenapa kamu ajak orang lain masuk kedalam pesantren, sambil dia menarik saya masuk, dan tidak menerima bapak itu untuk membelaku, pas bapak itu pergi saya langsung diseret dan dibanting sampai saya diinjak – injak, dan bangun di pukul dibagian belakang telinga kananku sampai berulang – ulang kali, Jelasnya.”

 

 

Sangat disayangkan pendidik diponpes tersebut malah berbalik menganiaya korban hingga korban tak berdaya. setelah kejadian itu pihak pesantren menghubungi keluarga korban pada larut malam, untuk korban dijemput pulang karena tidak biasanya korban kadang berteriak kayak orang kerasukan.

 

 

Pihak orantua pun keesokan harinya langsung mengunjungi pesantren dan mempertanyakan sebenarnya apa yang terjadi kepada anaknya, hingga pihak pesantren menyembunyikan kejadian tersebut, hingga saat hendak korban ingin pulang dan naik kekamar asramanya, korban kembali di keroyok ketiga pelaku hingga hidung berdarah dan mata lebam, padahal orang tua korban dan kakaknya berada di pesantren tersebut, hingga ibu korban histeris menangis yang menyaksikan anaknya kembali dianiaya dan tidak ada tindakan pihak ponpes pada saat itu, untuk mengadili pelaku yang diduga ada hubungan keluarga kepada oknum guru yang terlibat pemukuln tersebut.

Baca Juga  Tim SAR Gabungan Berhasil Temukan 10 Korban, Operasi Pencarian di Nyatakan Selesai

 

 

“Jadi setelah kejadian itu, saya langsung bawah anakku untuk diperiksa, kerumah sakit di Makassar dan sempat tinggal beberapa hari karena rasa sakit na rasakan dikepalanya, dan selalu muntah – muntah, ujar Suhartini.”

 

 

Sampai sekarang belum bisa bangun, karena kalau bangun pasti muntah dan kepalanya terasa oleng. apalagi pada malam hari selalu mengeluh kesakitan bagian dikepalanya.

 

 

Pihak keluarga sudah melaporkan awalnya ke Polda Sulsel akan tetapi dilimpahkan kepolres Takalar yang terdekat, dan sampai saat ini belum ada tindakan dan penahanan sejumlah pelaku yang terlapor.

 

Penulis: Fgr
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *