TERAS, GOWA – Mereka bukan pejabat, bukan juga pekerja yang punya gaji besar. Tapi setiap hari, para relawan Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) berjalan dari rumah ke rumah, menyusuri dusun ke dusun, lorong ke lorong, dan perkampungan di Kabupaten Gowa. Tujuannya cuma satu, memastikan tidak ada warga miskin ekstrem yang terlewat dari perhatian negara, Kamis 22 Januari 2026.
Di bawah Program Prioritas Bupati Gowa, LACAK mengandalkan kerja sunyi ratusan relawan yang kerap bekerja tanpa kenal waktu. Dari pagi hingga malam, mereka mendata kondisi warga dan melihat langsung rumah reyot, warga sakit tanpa biaya, hingga keluarga yang bertahan hidup dengan penghasilan tak menentu.
Ketua Tim LACAK Gowa, Kaharuddin Muji, menyebut para relawan sebagai “jantung” program penanggulangan kemiskinan ekstrem.
“Mereka bukan cuma mendata. Tapi Mereka mendengar keluh kesah warga, mengantar orang sakit berobat, membantu mengurus KTP dan BPJS, bahkan sampai ikut memikirkan bagaimana keluarga itu bisa bertahan hidup,” ujarnya.
Dengan insentif yang sangat terbatas, para relawan tetap bergerak karena panggilan kemanusiaan. Banyak dari mereka juga berasal dari keluarga sederhana, namun memilih tetap membantu warga yang lebih rentan.
Hasil kerja mereka kini mulai terlihat. Rumah yang dulunya bocor kini lebih layak, warga yang sakit bisa berobat, dan beberapa keluarga mulai bangkit lewat usaha kecil. Semua bermula dari ketukan pintu relawan LACAK.
Di tengah sorotan soal anggaran dan efektivitas program, Daeng Muji mengajak masyarakat melihat LACAK dari sisi kemanusiaan.
“Kalau belum bisa membantu lebih jauh, setidaknya jangan mematahkan semangat relawan. Mereka bekerja dengan hati, agar negara benar-benar hadir di tengah warga miskin,” katanya.










