Oleh: H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung
Makassar kini tidak lagi sekadar menghadapi persoalan kriminalitas jalanan. Ada ancaman yang jauh lebih menakutkan, pencurian anak di ruang publik. Ancaman itu bukan lagi sekadar kabar di media sosial atau cerita dari kota lain. Saya sendiri mengalaminya secara langsung.
Beberapa waktu lalu, kemenakan saya yang kedua hampir menjadi korban penculikan di Mall Panakkukang (MP) Makassar. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan tak terduga. Di tengah keramaian pengunjung, di depan toko besar seperti Diamond, anak itu tiba-tiba hilang dari pandangan.
Kepanikan pun pecah. Kami menyisir setiap sudut mall, bertanya kepada pengunjung dan petugas keamanan. Beberapa menit kemudian, ada informasi dari pengunjung lain, seorang perempuan muda terlihat menggandeng tangan anak itu menuju area hall tengah. Saat saya meminta pihak keamanan mengumumkan kejadian melalui pengeras suara, perempuan itu langsung melepaskan tangan anak dan bergegas masuk ke lift, melarikan diri.
Momen itu menjadi pengalaman yang menegangkan, sekaligus membuka mata bahwa Makassar benar-benar sedang tidak aman bagi anak-anak.
Ruang Publik Tak Lagi Aman
Selama ini kita berpikir bahwa tempat umum seperti mall, taman, pusat perbelanjaan, bahkan tempat ibadah adalah ruang aman untuk keluarga. Kenyataannya tidak demikian. Kasus penculikan dan percobaan pencurian anak mulai sering terdengar — entah di tempat ramai atau bahkan di sekolah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kriminalitas telah bergeser bentuk. Jika dulu pelaku kejahatan menunggu di jalanan sepi, kini mereka bisa menyamar dan beroperasi di tengah kerumunan. Mereka memanfaatkan kelengahan, kepercayaan, dan kesibukan orang tua.
Anak-anak, dengan kepolosan dan rasa ingin tahunya yang tinggi, menjadi target empuk. Mereka mudah diajak, digandeng, atau dialihkan perhatiannya. Dalam waktu hanya beberapa detik, anak bisa berpindah tangan tanpa sempat disadari keluarga.
Tanggung Jawab Bersama, Bukan Sekadar Orang Tua
Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Menjaga anak bukan hanya tugas orang tua, tapi juga tanggung jawab moral seluruh pihak: pengelola tempat umum, petugas keamanan (security), masyarakat sekitar, dan tentu saja aparat kepolisian.
1. Bagi orang tua, jangan pernah merasa aman hanya karena berada di tempat ramai. Genggamlah tangan anak dengan kuat. Ajarkan mereka untuk tidak mudah diajak oleh orang asing, sekalipun terlihat ramah atau berpura-pura mengenal keluarga.
2. Bagi pengelola tempat umum, terutama mall, taman, dan tempat hiburan keluarga, keamanan anak harus menjadi prioritas utama. Peningkatan jumlah CCTV, pelatihan bagi petugas keamanan untuk mendeteksi gerak-gerik mencurigakan, dan respon cepat terhadap laporan kehilangan anak mutlak diperlukan.
3. Bagi petugas keamanan (security), perlu ada pelatihan yang lebih profesional. Jangan hanya fokus pada pengawasan barang atau parkiran, tapi juga pada keamanan pengunjung, terutama anak-anak. Respons cepat dan prosedur standar (SOP) penanganan anak hilang harus diterapkan, bukan sekadar formalitas.
4. Bagi pihak kepolisian, kasus-kasus seperti ini perlu mendapat perhatian serius. Pencurian atau percobaan penculikan anak bukanlah kejahatan kecil, tetapi ancaman terhadap generasi dan rasa aman masyarakat. Investigasi, patroli di pusat keramaian, serta edukasi publik harus digencarkan agar pelaku tidak leluasa beraksi.
Kesadaran Kolektif dan Empati Sosial
Kita hidup di era di mana kejahatan tak lagi mudah ditebak bentuk dan motifnya. Oleh karena itu, kesadaran kolektif masyarakat menjadi benteng terakhir. Jangan menutup mata ketika melihat situasi mencurigakan, misalnya seseorang yang menggandeng anak dengan wajah kebingungan atau ketakutan. Lebih baik bertanya, menegur, atau melapor, daripada menyesal kemudian.
Masyarakat Makassar terkenal dengan solidaritasnya yang tinggi. Nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge harus dihidupkan kembali dalam konteks modern: menjaga satu sama lain, termasuk anak-anak di sekitar kita.
Kejadian yang menimpa kemenakan saya hanyalah satu dari sekian banyak kasus yang mungkin belum terungkap. Kita tidak bisa menunggu sampai tragedi terjadi untuk mulai waspada.
Makassar harus segera berbenah. Pemerintah kota, pengelola mall, aparat keamanan, dan masyarakat perlu bersinergi membangun sistem keamanan anak di ruang publik.
Waspada bukan berarti takut, tapi peduli dan siap melindungi. Karena setiap anak yang selamat, adalah masa depan yang berhasil kita jaga bersama.










