May Day, Jurnalis Senior Asal Gowa Bicara Soal Realita Buruh

  • Bagikan
Jurnalis senior sekaligus pemerhati media, Tahar (Foto/TerasKota).

Teras, Gowa – Berbicara mengenai Hari Buruh atau May Day, kebanyakan orang langsung membayangkan kerumunan massa dengan spanduk di jalanan atau barisan pekerja berbaju seragam. Namun bagi jurnalis senior asal Gowa, Tahar, buruh bukan hanya sebagai simbol aksi tahunan.

“Hari Buruh jangan hanya dimaknai sebagai perayaan atau aksi jalanan. Ini soal kehidupan nyata para pekerja soal upah yang layak, perlindungan, dan martabat yang harus dihargai,” tegas Tahar.

Buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei merupakan jantung yang memompa denyut nadi peradaban modern. Tanpa mereka, roda kehidupan dalam organisasi maupun perusahaan tidak akan berjalan. Namun realitas di lapangan menunjukkan, masih banyak pekerja hidup dalam keterbatasan.

“Kita tidak bisa menutup mata, masih banyak buruh yang gajinya hanya cukup untuk bertahan hidup dari bulan ke bulan. Ini bukan kesejahteraan, tapi ini cara mereka untuk bertahan hidup,” lanjutnya.

Momen Hari Buruh, menurut Tahar, seharusnya menjadi ruang refleksi bersama, terutama di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Perkembangan teknologi menuntut para pekerja untuk mampu beradaptasi.

“Otomasi dan kecerdasan buatan memang membawa efisiensi, tapi juga mengancam lapangan kerja. Kalau buruh tidak dibekali kompetensi, mereka akan semakin tertinggal,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan keterampilan sebagai kunci menghadapi tantangan ke depan. Sistem kerja kontrak yang berkepanjangan, upah yang terbatas, serta jaminan sosial yang belum merata masih menjadi persoalan utama.

“Solusinya jelas peningkatan kompetensi. Negara dan perusahaan harus hadir memberi ruang, termasuk insentif pendidikan bagi pekerja,” kata Tahar.

Ia juga menegaskan bahwa pemberian upah layak bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi.

“Upah layak itu bukan kedermawanan, tapi hak. Itu adalah nilai dari kerja keras buruh yang harus dibayar secara adil,” tegasnya.

Baca Juga  Wakil Ketua DPRD Gowa Hasrul Abdul Rajab Perkuat Sinergi dengan Forkopimda Lewat Silaturahmi ke PN Sungguminasa

Sebagai jurnalis sekaligus pemerhati media, Tahar berharap ada keberpihakan nyata terhadap pekerja di berbagai sektor.

“Kita butuh perlindungan kerja yang kuat, perhatian yang konkret, dan penghargaan terhadap kompetensi. Jangan sampai buruh hanya diingat setiap 1 Mei,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan bahwa menghargai buruh berarti menghargai kemanusiaan itu sendiri.

“Tanpa buruh, negara ini tidak akan bergerak. Mereka adalah fondasi utama pembangunan,” tutup Tahar.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *