Oleh: Fatimah Daeng Sambara
Hari Jumat yang penuh berkah ini, bertepatan dengan tanggal cantik 10-10-2025, menjadi momentum untuk merenung dan memperkuat tekad dalam menjalani kehidupan yang penuh tanggung jawab. Sebagai manusia, kita sering dihadapkan pada berbagai ujian, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun tanggung jawab sosial di tengah masyarakat. Namun, setiap ujian sesungguhnya adalah cara Allah SWT mengajarkan kita arti kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.
Sebagai seorang perempuan, ibu, dan pelayan masyarakat di tingkat desa, saya meyakini bahwa kekuatan sejati bukanlah semata fisik, melainkan keteguhan hati dalam menghadapi segala keadaan. Karena itu, setiap langkah yang saya jalani selalu saya awali dengan doa:
“Hasbunallahu wa ni‘mal wakil, ni‘mal maula wa ni‘man nashir.”
Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung, sebaik-baik penolong. (QS. Ali Imran [3]: 173)
Doa ini menjadi pegangan ketika lelah datang, ketika beban tanggung jawab terasa berat, baik sebagai seorang istri, ibu, maupun pemimpin di tingkat desa. Saya percaya bahwa selama kita berpegang teguh kepada Allah SWT dan berusaha dengan niat yang tulus, maka segala urusan akan dimudahkan.
Dalam kehidupan sosial, manusia tidak bisa berjalan sendiri. Kita hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Oleh karena itu, hubungan habluminallah (hubungan dengan Allah) harus sejalan dengan habluminannas (hubungan dengan sesama manusia). Islam mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan kemanusiaan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Pesan ini menjadi landasan moral bagi kita semua, khususnya dalam kehidupan bermasyarakat. Di tingkat desa, kebersamaan adalah kunci utama pembangunan. BPD, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga harus saling berkolaborasi dengan semangat gotong royong dan keterbukaan. Tidak ada pembangunan yang berhasil jika dijalankan dengan ego dan kepentingan pribadi.
Sebagai Ketua BPD Taeng, saya melihat betapa pentingnya persatuan dan komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Ketika niat kita satu yaitu membangun desa dengan hati yang ikhlas maka segala perbedaan bisa menjadi kekuatan, bukan pemisah. Setiap program yang dilaksanakan bukan hanya sekadar administrasi, melainkan bentuk nyata pengabdian kepada rakyat, demi kesejahteraan bersama.
Dalam keluarga, doa dan kasih sayang menjadi fondasi utama. Dari keluarga lahir generasi yang kuat, jujur, dan berakhlak mulia. Maka, saya selalu berdoa:
“Ya Allah, sehatkanlah badanku, berkahilah umurku, lancarkanlah rezekiku, kuatkanlah pundakku, dan limpahkanlah kesehatan dunia dan akhirat untukku serta keluargaku.”
Karena sejatinya, keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang tangguh, dan masyarakat yang tangguh akan melahirkan bangsa yang bermartabat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kita diajarkan untuk taat kepada Allah, Rasul, dan pemerintah yang adil, sebagaimana firman Allah SWT:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūla wa ulil-amri minkum.”
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), serta ulil amri (pemerintah) di antara kamu.”
(QS. An-Nisa [4]: 59)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara ketaatan spiritual dan tanggung jawab sosial. Pemerintah yang adil membutuhkan rakyat yang patuh dan kritis dengan cara yang santun, sementara rakyat membutuhkan pemimpin yang jujur, adil, dan amanah. Sinergi inilah yang harus kita jaga agar bangsa dan daerah kita tetap kuat.
Jumat berkah ini menjadi momen bagi saya dan kita semua untuk memperbaharui niat: menjadi pribadi yang sabar, bersyukur, dan berdaya guna bagi sesama. Mari bersama-sama membangun desa kita dengan keikhlasan, semangat kebersamaan, dan cinta terhadap negeri. Karena dari desa yang kuat, akan lahir Indonesia yang hebat.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan, dan kekuatan lahir batin untuk kita semua dalam menjalankan amanah kehidupan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin










