TERAS, GOWA – Tahun 2025 menandai 97 tahun peringatan Hari Sumpah Pemuda yang mengusung tema “Bersatu, Bergerak, Majukan Indonesia”. Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi ajakan moral untuk kembali menyalakan bara semangat yang pernah dinyalakan para pemuda tahun 1928, semangat persatuan lintas suku, bahasa, dan daerah demi satu tujuan, Indonesia yang maju dan berdaulat.
Namun, di tengah tantangan zaman modern, semangat itu seringkali terasa padam di akar rumput. Padahal, di desa-desa yang menjadi jantung kehidupan bangsa, justru tersimpan energi sosial, budaya, dan ekonomi yang luar biasa. Dari sinilah seharusnya api Sumpah Pemuda kembali dinyalakan, dari desa untuk bangsa.
Pemuda desa hari ini hidup di era digital yang serba cepat. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton perubahan, tetapi juga aktor utama dalam pembangunan lokal. Melalui teknologi, kreativitas, dan kolaborasi, pemuda desa mampu membuka lapangan kerja baru, menggerakkan UMKM, serta melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi kekuatan identitas bangsa.
Menurut Dr. Ahmad Ridwan, sosiolog dari Universitas Hasanuddin, “Pemuda desa adalah penghubung antara tradisi dan modernitas. Mereka bisa menjadi jembatan kemajuan jika diberi ruang partisipasi dan dukungan yang tepat.”
Pernyataan ini menggambarkan pentingnya peran pemuda desa sebagai penjaga nilai dan agen inovasi. Pemerintah desa bersama APDESI perlu terus mendorong munculnya ekosistem yang memungkinkan anak muda membangun desa tanpa harus meninggalkannya.
Pakar kebijakan publik, Prof. Hj. Nurlina Baso, menilai bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat tumbuh jika desa menjadi titik tolaknya. “Ketika desa kuat, maka ketimpangan akan menurun, urbanisasi bisa terkendali, dan keadilan sosial lebih mudah diwujudkan,” ungkapnya.
Dalam konteks Sumpah Pemuda, pesan ini menegaskan bahwa semangat “satu tanah air” bukan hanya tentang kebanggaan geografis, melainkan juga tanggung jawab moral untuk memastikan setiap wilayah, termasuk desa terpencil, mendapat kesempatan yang sama untuk maju.
Gerakan pemuda desa hari ini adalah bentuk konkret dari semangat sumpah pemuda dalam dimensi kekinian: bukan lagi berikrar di gedung Kongres Pemuda, tetapi beraksi di sawah, di UMKM digital, di koperasi desa, dan di pusat inovasi lokal yang tumbuh di seluruh pelosok Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Dr. Hj. Syarifah Laila, M.Si, pemerhati gerakan pemuda dan pembangunan desa, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi. “Kemandirian desa tidak akan tumbuh tanpa kolaborasi antara pemerintah, pemuda, dan masyarakat. APDESI memiliki peran strategis untuk memfasilitasi ruang temu itu,” ujarnya.
Kolaborasi ini mencerminkan nilai-nilai utama Sumpah Pemuda, bersatu dalam perbedaan. Ketika pemuda, perangkat desa, dan masyarakat bersinergi, maka desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menentukan arah masa depan bangsa.
Sebagai Ketua APDESI Sulawesi Selatan, saya melihat langsung bagaimana pemuda-pemudi desa memiliki semangat luar biasa untuk berkontribusi. Dari desa pesisir hingga pegunungan, dari wilayah agraris hingga wisata, ada semangat baru yang terus menyala, semangat untuk menjadikan desa sebagai pusat peradaban dan ketahanan bangsa.
Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian generasi muda. Mari kita jaga bara semangat itu di desa-desa, karena dari jantung desa-lah energi Indonesia memancar.
Bahwa APDESI berkomitmen mendukung lahirnya pemuda-pemuda desa yang berdaya, berpengetahuan, dan berjiwa kebangsaan. APDESI juga mendorong kolaborasi lintas sektor agar setiap desa di Sulawesi Selatan dapat menjadi laboratorium kemandirian dan inovasi.
Sumpah Pemuda 2025 adalah momentum untuk merefleksikan kembali makna kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Bila dulu para pemuda berjuang melawan penjajahan, maka pemuda masa kini berjuang melawan kemiskinan, ketertinggalan, dan ketidakadilan sosial.
Dari jantung desa Indonesia, semangat itu harus terus menyala, menjadi suluh bagi bangsa yang sedang berlari menuju masa depan. Karena dari desa-lah persatuan dimulai, dari desa-lah kemandirian dibangun, dan dari desa-lah api Sumpah Pemuda akan terus menyala untuk Indonesia Raya.










