Politik sebagai Jalan Pengabdian, Etika sebagai Penjaga Martabat

  • Bagikan
Kepala Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Hadian Supriatna, S.P.

Oleh: Hadian Supriatna, S.P

Politik sejatinya bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan jalan pengabdian. Di dalam negara demokrasi seperti Indonesia, politik adalah sarana konstitusional untuk mewujudkan cita-cita bernegara: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Namun harus diakui, tanpa etika, politik akan kehilangan ruhnya. Ia hanya menjadi panggung sandiwara yang melelahkan ramai janji, tetapi sunyi tanggung jawab.

Di tingkat desa, makna politik jauh lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Politik tidak selalu identik dengan pemilu atau kampanye, melainkan hadir dalam setiap musyawarah warga, dalam keputusan pembangunan jalan lingkungan, dalam pengelolaan bantuan sosial, hingga dalam keberpihakan pada petani, buruh, dan pelaku usaha kecil. Desa adalah ruang pertama tempat negara benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Karena itu, politik desa seharusnya berwatak pelayanan. Kepala desa dan perangkatnya bukan penguasa, melainkan pengemban amanah masyarakat. Dalam budaya masyarakat kita khususnya budaya Sunda yang menjunjung silih asih, silih asah, dan silih asuh kepemimpinan tidak diukur dari kekuatan perintah, tetapi dari keteladanan sikap. Pemimpin harus hadir menenangkan, bukan mempertajam perbedaan.

Etika menjadi fondasi terpenting dalam menjalankan pemerintahan desa. Etika melahirkan kejujuran dalam pengelolaan anggaran, keadilan dalam pelayanan administrasi, serta keterbukaan dalam perencanaan pembangunan. Tanpa etika, jabatan hanya menjadi simbol; dengan etika, jabatan berubah menjadi kepercayaan. Masyarakat desa tidak hanya menilai program, tetapi juga menilai sikap bagaimana pemimpin menyapa, mendengar keluhan, dan menyelesaikan persoalan tanpa memandang golongan.

Politik yang beretika juga menjaga persatuan. Perbedaan pilihan dalam demokrasi adalah hal yang wajar, namun setelah itu masyarakat harus kembali sebagai satu keluarga besar desa. Jangan sampai kontestasi sesaat merusak persaudaraan yang telah terbangun puluhan tahun. Desa kuat karena gotong royongnya, bukan karena kompetisinya.

Baca Juga  Investasi, Legalitas, dan Keberlanjutan: Mengapa Publik Perlu Mendengar Versi Kalla Group

Pada akhirnya, politik terbaik adalah politik yang membumi: politik yang dekat dengan rakyat, menjunjung adat dan budaya, serta setia pada nilai-nilai Pancasila. Ketika etika menjadi pedoman, politik tidak lagi melelahkan, melainkan menghadirkan harapan. Desa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi tempat tumbuhnya kepercayaan antara negara dan rakyat.

Maka benar, politik adalah cara terbaik untuk berbakti selama ia dijalankan dengan nurani. Tanpa etika, politik hanya panggung; dengan etika, politik menjadi ibadah pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *