TERAS, GOWA – Ruang rapat DPRD Kabupaten Gowa hari itu terasa berbeda. Suara lirih, penuh kegetiran, datang dari para guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi. Mereka bukan hadir untuk mengeluh, melainkan mengetuk hati para wakil rakyat agar memberi keadilan atas pengabdian panjang yang sering terabaikan.
“Seandainya daerah hanya mampu menggaji Rp250 ribu per bulan, kami terima. Yang penting ada legalitas di bawah nama kami. Hidup kami sudah separuh diabdikan untuk mengajar dan melayani masyarakat. Kami hanya ingin kepastian,” tutur seorang guru dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, menahan haru.
Setengah umur mereka dihabiskan di depan papan tulis, mencetak generasi, membimbing anak-anak bangsa dengan penuh kesabaran. Namun, status kerja tak kunjung jelas, nasib mereka terus terkatung-katung. Harapan kini tinggal satu: diakomodasi dalam formasi P3K, penuh waktu maupun paruh waktu.
“Bismillah, harapan kami ada pada Ketua DPRD Kabupaten Gowa dan Kepala BKPSDM. Jangan biarkan pengabdian kami berakhir tanpa penghargaan. Semoga perjuangan ini tidak sia-sia,” sambungnya, suaranya bergetar menahan emosi.
Rasa perih makin dalam saat mereka menyinggung soal ketidakadilan administrasi. Surat Keputusan (SK) yang diterbitkan Dinas Pendidikan justru dianulir oleh pihak yang sama, membuat posisi mereka makin rapuh.
“SK ini dibuat Dinas Pendidikan, tapi yang dipersalahkan justru guru penerima SK. Bahkan ada teman-teman yang sudah masuk P3K karena SK-nya berkode, sementara kami yang SK-nya tidak berkode ditinggalkan. Sakit rasanya, seolah ada yang dipilih dan ada yang dibuang,” ungkap seorang guru dengan suara tertahan.
Tak berhenti di situ, mereka juga mengeluhkan semrawutnya pendataan honorer. Data diserahkan kepada tenaga P3K baru, bukan honorer senior yang sudah memahami seluk-beluk pendataan. Akibatnya banyak data bermasalah, meski mereka punya bukti resmi di BKPSDM.
“Seakan-akan suara kami tidak pernah didengar. Padahal bukti pengabdian itu nyata, ada di kelas, ada di hati anak-anak didik kami,” pungkasnya, menyisakan keheningan di ruang rapat.










