Secangkir Teh dan Hikmah Kehidupan; Jejak Rasa Dalam Perjalanan Manusia

  • Bagikan
PENULIS OPINI - Danial Malik Daeng Rani, Pemerhati Politik dan Budaya. Foto ini diterima Teras Kota pada Oktober 2025 untuk keperluan identitas penulis Opini Teras Kota.

Oleh : Danial Malik Daeng Rani

Hidup dan kehidupan bukanlah sekadar perjalanan waktu, melainkan peristiwa rasa. Dari rasa kita mengenali manis dan pahit, senang dan sedih, riang dan pilu. Kalender mungkin berubah, tahun demi tahun berganti, tetapi rasa yang pernah singgah tetap meninggalkan jejak dalam ingatan. Ia menjadi penanda, bahwa hidup bukan soal hitungan detik, melainkan getaran yang mengisi detik itu.

Rasa yang kita alami sesungguhnya tidak lahir begitu saja. Ia terbentuk dari peristiwa panjang, dari banyak tangan dan hati yang saling bertaut. Sebagai penikmat teh, kita ambil contoh sederhana: secangkir teh hangat yang kita nikmati. Nikmatnya bukan sekadar hasil racikan hari ini. Ada benih yang pernah ditanam oleh banyak petani, pohon yang dirawat, daun yang dipetik, peluh yang menetes para pemetik teh, hingga keahlian yang mengolahnya. Mungkin sebagian orang yang terlibat sudah tiada, namun jejak mereka tetap hidup dalam secangkir teh yang kini kita rasakan.

Dari sana kita belajar bahwa hidup ini tidak pernah berdiri sendiri, untuk itu kita perlu melihat dan mengenal siapa yang terlibat dalam menghadirkan rasa, yang kemudian akan membuat kita semakin sadar bahwa ada persaudaraan yang mengikat sesama manusia. Tanpa mereka, rasa dalam hidup akan hambar. Justru karena ada banyak jiwa yang saling melengkapi, hidup menjadi kaya dan penuh warna.

Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa syukur. Kita memahami bahwa kebahagiaan yang kita rasakan hari ini bukan hanya buah dari usaha pribadi, tetapi juga hadiah dari banyak orang yang hadir, bekerja, bahkan berkorban tanpa kita sadari. Rasa, dengan demikian, adalah guru yang mengajarkan kita untuk menghargai, berterima kasih, dan menyadari betapa kehidupan kita selalu bertaut dengan kehidupan orang lain.

Baca Juga  Polisi di Hari Pahlawan, Antara Pengabdian dan Tantangan Reformasi

Disisi lain, kehidupan tidak selalu menghadirkan rasa manis. Ada pula saat-saat mengalami rasa pahi, kesal, amarah bahkan congkak mengambil tempat di hati kita. Rasa itu membuat hidup keruh dan menjauhkan kita dari sesama. Tetapi di balik getirnya, ada anugerah lain: ruang untuk saling memaafkan, kesempatan untuk bertobat, dan kekuatan untuk kembali merendahkan hati. Justru dari peristiwa itu kita belajar, bahwa rasa pahit pun bisa menjadi jalan menuju kejernihan jalan kembali pada rasa nyaman yang dipenuhi syukur.

Lebih dari sekadar perekat antar manusia, rasa juga menjadi jembatan antara kita dan Sang Khalik. Dari-Nya datang napas yang keluar masuk, memberi kita kesempatan untuk tetap hidup dan me-rasa. Dari-Nya anugerah penglihatan, yang memungkinkan kita menyaksikan wajah-wajah yang membersamai. Dari-Nya pula lahir kemampuan hati untuk mengenali cinta, persaudaraan, dan kasih sayang. Setiap rasa yang kita alami sejatinya adalah tanda kasih-Nya, sebuah pengingat bahwa kita tidak pernah berjalan seorang diri.

Maka, kehidupan yang sejati adalah kehidupan yang mau mengolah rasa: menyadari, menghargai, mensyukuri, dan membagikannya. Rasa bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk diwariskan. Dalam setiap rasa, kita menemukan jembatan antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan Sang Khalik. Sang Khalik menganjurkan kita untuk menyatakan nikmat-Nya dengan bersyukur “wa amma” bini’mati rabbika fa haddist (QS Adh Dhuha -11).

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar deretan peristiwa, tetapi kisah yang mengalir, menyatukan, dan mengikat hati dalam persahabatan, serta menumbuhkan rasa syukur yang tak berkesudahan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *