Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Generasi Kini

  • Bagikan
OPINI - Guru SMAN 1 Sungguminasa, Tayyeb Sijaya

 

Oleh: Tayyeb Sijaya

Sembilan puluh tujuh tahun silam, di sebuah gedung di Jalan Kramat Raya No. 106, Batavia Gedung Indonesische Clubgebouw. Kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda, sekelompok pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul.

Mereka datang dengan logat, adat, dan latar berbeda, namun menyatukan tekad dalam satu gagasan besar: Indonesia yang merdeka. Dari pertemuan itulah lahir ikrar sederhana namun mengguncang sejarah, bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa masa lampau yang tiap tahun kita peringati dengan upacara bendera. Ia adalah pernyataan politik yang lahir dari kegelisahan anak muda terhadap nasib bangsanya di bawah penjajahan. Mereka sadar bahwa perjuangan tak akan berarti tanpa persatuan. Ikrar itu menjadi fondasi kesadaran nasional yang kelak menuntun bangsa ini menuju Proklamasi 1945.

Kini, sembilan puluh tujuh tahun kemudian, bangsa ini menghadapi tantangan lain yang tak kalah berat. Penjajahan berganti rupa: bukan lagi senjata dan kekuasaan asing, melainkan sikap apatis, intoleransi, disinformasi, dan keserakahan. Pemuda hari ini berhadapan dengan gelombang media sosial yang penuh kebisingan dan kabar palsu, yang perlahan menggerus kepercayaan dan rasa kebersamaan.

Dalam konteks itu, memperingati Sumpah Pemuda tak semestinya berhenti pada seremoni. Upacara bendera penting sebagai simbol, tetapi jauh lebih penting bagaimana semangatnya dihidupkan dalam tindakan. Seseorang bisa berdiri tegak di lapangan, namun abai pada maknanya, sementara yang lain, tanpa hadir di upacara, justru menjaga semangat persatuan lewat kerja jujur, pikiran terbuka, dan sikap saling menghargai.

Generasi muda masa kini punya medan juang berbeda: ruang digital, dunia kerja, kampus, hingga komunitas sosial. Di sanalah semangat Sumpah Pemuda diuji, apakah kita tetap memilih bersatu, bekerja keras, berpikir kritis, dan berbuat baik tanpa pamrih.

Baca Juga  Pecahnya Sebuah Negeri

Sumpah Pemuda bukan naskah usang yang dibacakan tiap tahun, melainkan pesan yang terus hidup di setiap generasi. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah garis akhir, tetapi tanggung jawab yang harus dijaga dan dihidupkan terus-menerus.

Tanggung jawab generasi kini adalah menafsirkan kembali semangat itu sesuai zamannya, bersatu tanpa harus seragam, berbeda tanpa harus berjarak, dan berjuang tanpa harus mengangkat senjata. Karena bangsa ini akan tetap berdiri sejauh para pemudanya tidak berhenti percaya bahwa Indonesia, selamanya, layak diperjuangkan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *