Ubah Sampah Jadi Emas, LPPM Politeknik Indonesia Berdayakan Dasawisma Sudiang Raya Makassar

  • Bagikan

Teras, Makassar – Masalah sampah domestik yang selama ini dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai beban lingkungan, kini mulai dilirik sebagai peluang ekonomi menjanjikan oleh warga Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Melalui inisiasi strategis dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Politeknik Indonesia, kelompok Dasawisma di wilayah tersebut kini didorong untuk mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular yang transformatif.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang bertajuk “Transformasi Sampah Menjadi Emas: Pemberdayaan Dasawisma dalam Implementasi Ekonomi Sirkular dan Sanitasi Berbasis Masyarakat” ini digelar dengan antusiasme tinggi pada Sabtu (14/02/2026). Bertempat di lingkungan RT 05/RW 01, acara ini tidak sekadar menjadi ajang sosialisasi, tetapi bertujuan besar mengubah pola pikir (mindset) masyarakat: dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola sampah secara mandiri yang bernilai ekonomi tinggi.

Sentuhan Akademisi dalam Persoalan Urban

Ketua Tim Pelaksana Kegiatan, Ir. Junardin Djamaluddin, S.P., M.Si., IALI., menegaskan bahwa edukasi ini adalah langkah konkret dan tanggung jawab moral perguruan tinggi dalam menjawab persoalan sanitasi perkotaan yang kian kompleks. Menurutnya, keterlibatan akademisi sangat diperlukan untuk menjembatani teori pengelolaan lingkungan dengan praktik nyata di tingkat rumah tangga.

“Kami ingin masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai kotoran yang menjijikkan, tetapi sebagai aset yang berharga. Dengan sentuhan manajemen ekonomi sirkular, sampah domestik yang dihasilkan dari dapur ibu-ibu Dasawisma di RT 05/RW 01 Keurahan Sudiang Raya ini bisa ditransformasikan menjadi ‘emas’ atau nilai rupiah yang nyata. Ini adalah solusi ganda: lingkungan bersih, ekonomi keluarga pun terbantu,” ujar Ir. Junardin dalam sambutan pembukaannya yang disambut hangat oleh warga.

Lebih lanjut, Ir. Junardin menjelaskan bahwa pemilihan Kelurahan Sudiang Raya sebagai lokasi pengabdian bukan tanpa alasan. Wilayah Biringkanaya merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan pemukiman yang sangat pesat di Makassar, sehingga manajemen sampah yang buruk di tingkat rumah tangga dapat berdampak fatal bagi kesehatan lingkungan dan sistem drainase kota.

Baca Juga  Sinergi DPC Wahdah Islamiyah Mariso dan Muslimah Wahdah Cabang Mariso Sembelih 10 Ekor Sapi dan 1 Ekor Kambing

Sinergi Sanitasi dan Manajemen Keuangan

Kegiatan intensif selama satu hari ini menghadirkan dua pakar sebagai narasumber utama untuk memberikan pemahaman komprehensif dari hulu ke hilir. Narasumber pertama, Risnawati Anwas, S.KM., M.Kes., memaparkan materi krusial terkait sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa kesehatan keluarga dimulai dari cara mengelola limbah di dapur sendiri.

“Pemilahan sampah dari sumbernya adalah garda terdepan dalam mencegah penumpukan sampah yang menjadi sarang penyakit, mulai dari diare hingga risiko stunting akibat lingkungan yang tidak higienis. Sampah yang tidak terkelola juga seringkali menyumbat drainase di wilayah Biringkanaya, yang pada akhirnya memicu banjir lokal. Jika kita disiplin memilah, kita menyelamatkan kesehatan lingkungan kita sendiri,” tegas Risnawati.

Sementara itu, untuk menyentuh aspek kemandirian ekonomi, narasumber kedua, Tri Fira Yuniza, SE., M.Ak, memberikan edukasi mendalam mengenai tata kelola keuangan berbasis sampah. Sebagai pakar akuntansi, ia tidak hanya berteori, tetapi langsung memberikan simulasi perhitungan angka.

Tri Fira mendemonstrasikan bagaimana sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan logam yang selama ini dibuang cuma-cuma, jika dipilah dan dikelola secara kolektif, dapat dikonversi menjadi tabungan atau bahkan investasi emas yang menguntungkan. “Ini bukan sulap, ini matematika sederhana. Jika kelompok Dasawisma memiliki sistem pencatatan yang rapi, sampah-sampah ini adalah ‘modal’ yang selama ini kita buang sia-sia ke TPA,” jelasnya.

Membangun Roadmap Mandiri Dasawisma

Fokus utama kegiatan LPPM Politeknik Indonesia kali ini bukan sekadar memberikan teori searah, melainkan pendampingan langsung dalam penyusunan program mandiri.

Selain itu, para peserta yang terdiri dari ibu-ibu penggerak Dasawisma juga diajak berdiskusi untuk merancang roadmap pengelolaan sampah di lingkungan mereka sendiri.

Baca Juga  Hasrul Abdul Rajab: Kisah Umar bin Khattab Jadi Pengingat Amanah bagi Pemimpin

Warga didorong untuk merancang secara mandiri system pengelolaan sampah rumah tangga mulai jalur distribusi penjemputan sampah, menentukan titik kumpul sementara, hingga menyepakati mekanisme penyetoran ke Bank Sampah terdekat.

Hasilnya, para peserta berhasil menyusun draf rencana kerja yang aplikatif dan sesuai dengan kondisi sosial di RT 05/RW 01 di Kelurahan Sudiang Raya.

Ketua RT 05/RW 01 Kelurahan Sudiang Raya yang turut hadir pada kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas inisiasi LPPM Politeknik Indonesia. Pihaknya berharap model pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di RT 05/RW 01 ini dapat segera berjalan konsisten sehingga nantinya bisa menjadi percontohan (pilot project) bagi RT dan RW lain di wilayah Kelurahan Sudiang Raya Kota Makassar.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama antara Tim Pelaksana dari Politeknik Indonesia dan pengurus Dasawisma RT 05/RW. 01 Kelurahan Sudiang Raya. Ir. Junardin Djamaluddin menggaransikan bahwa timnya tidak akan melepaskan pendampingan begitu saja jika pihak mitra membutuhkannya.

“Pengabdian ini adalah awal. Kami akan dengan senang hati melakukan monitoring berkala untuk memastikan rencana mandiri yang disusun ibu-ibu hari ini benar-benar berjalan jika diinginkan. Dengan kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, kita membuktikan bahwa masalah sanitasi di Kelurahan Sudiang Raya dapat teratasi sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” pungkas Ir. Junardin.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, harapannya bahwa warga Sudiang Raya memiliki senjata baru dalam mengelola lingkungan: pengetahuan yang mumpuni dan semangat untuk mengubah limbah menjadi berkah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *