add_action('wp_enqueue_scripts', function() {
if(is_home()) {
wp_enqueue_script('slick', get_template_directory_uri() . '/assets/js/slick.min.js', array('jquery'), '1.0', true);
wp_enqueue_script('slick-headline', get_template_directory_uri() . '/assets/js/slick-headline-init.js', array('slick'), '1.0', true);
}
});
The post Hj. Husniah Talenrang Menggagas Kembalinya Adab Kepemimpinan Gowa appeared first on Teraskota.info.
]]>Bagi Bupati Gowa ini, masa depan Gowa tidak semata ditentukan oleh proyek pembangunan fisik, tetapi oleh kemampuan pemerintah menghidupkan kembali nilai-nilai keutamaan yang selama ratusan tahun menjadi roh pemerintahan lokal.
Gowa memiliki sejarah panjang tentang kepemimpinan yang berakar pada kesantunan, musyawarah, martabat, dan penghormatan terhadap manusia. Karena itu, gagasan yang diusung Bupati Gowa bukanlah romantisme budaya, tetapi upaya menafsir ulang tradisi luhur agar relevan bagi tantangan modern, mulai dari pelayanan publik, reformasi birokrasi, hingga relasi antara pemimpin dan rakyat.
Refleksi Kepemimpinan Gowa di Hari Jadi Gowa ke-705 ini, menjadi momentum untuk melihat bahwa nilai-nilai lama itu tidak hilang, melainkan sedang dihidupkan kembali dalam wujud yang lebih kontekstual dan responsif.
Adab Kepemimpinan: Merawat Nilai Keutamaan dan Warisan Leluhur
Upaya membangun pemerintahan yang beretika tidak dapat dipisahkan dari kearifan budaya Gowa yang sejak masa kerajaan menjadi pedoman para pemimpin. Nilai-nilai ini hadir dalam dua lapis: nilai sosial-moral yang hidup dalam masyarakat, dan nilai adat yang membimbing praktik kekuasaan.
1. Tiga Nilai Keutamaan Sosial, Sipakainga’, Sipakalabiri’, Sipakatau
Sipakainga’ adalah nilai saling mengingatkan pada kebaikan. Dalam birokrasi, ia bermakna integritas: bekerja jujur, menjauhi korupsi, disiplin, dan mendahulukan kepentingan masyarakat.
Sipakalabiri’ mengajarkan penghormatan terhadap martabat dan peranan. Wibawa pemerintah lahir dari keteladanan, bukan tekanan kekuasaan.
Sipakatau merupakan puncak nilai kemanusiaan, memanusiakan manusia. Ia melandasi prinsip penghormatan hak, perlakuan adil, dan kesetaraan pelayanan publik.
Ketiga nilai ini menjadikan adab bukan sekadar sopan santun, tetapi etika moral yang memandu perilaku pemerintahan.
2. Tiga Pilar Adat Pemerintahan Gowa, Ada’, Rapang, dan Bicara
Ada’ adalah norma adat yang menjadi pedoman moral. Ia menuntut konsistensi, kejujuran, dan tindakan yang sesuai aturan.
Rapang adalah preseden keteladanan para pemimpin masa lalu, keberanian turun ke rakyat, keteguhan memegang amanah, kerendahan hati dalam melayani.
Bicara adalah prinsip musyawarah dan dialog. Keputusan diambil melalui kebijaksanaan yang melibatkan suara rakyat.
Ketiga pilar ini memperkuat nilai sipakainga’, sipakalabiri’, sipakatau, membentuk fondasi kepemimpinan yang beretika, berwibawa, dan berperikemanusiaan.
Adab Pemerintahan dalam Program Strategis: Menyapa dan Mengangkat Martabat Rakyat
Gagasan adab kepemimpinan tersebut diterjemahkan Bupati Hj. Husniah Talenrang dalam beragam program strategis yang menempatkan martabat rakyat sebagai pusat kebijakan.
Gowa Tangkasa bukan sekadar program kebersihan, tetapi simbol penghormatan terhadap ruang hidup masyarakat. Menata lingkungan berarti memuliakan kehidupan warga.
Gowa Massannang menegaskan bahwa rasa aman tidak hanya dihasilkan oleh aparat keamanan, tetapi oleh kehadiran emosional, sosial, dan moral pemerintah di tengah masyarakat.
Yang menarik lainnya adalh Intervensi sosial yang dilakukan Pemerintah Daerah dengan kolaborasi seluruh unsur lapisan Masyarakat dalam memberikan bantuan perbaikan rumah Masyarakat miskin ekstrem, modal usaha, dan penguatan ekonomi kerakyatan menjadi wujud nyata nilai lama Gowa, rakyat yang lemah harus diangkat martabatnya, bukan dibiarkan tertinggal dalam keterbatasan.
Tak kalah pentingnya Program One Day One Distrik, di mana Bupati turun langsung menemui masyarakat setiap hari, memperlihatkan kembali pola kepemimpinan tradisional, pemimpin yang mencari rakyat. Ini bukan sekadar inspeksi, tetapi praktik adab pemerintahan dalam bentuk paling otentik.
Lebih menarik lagi adalah pembentukan Tim Lacak, yang bertugas mendeteksi warga rentan tanpa menunggu laporan. Ini mengingatkan pada mekanisme sosial masa lampau yang memastikan tidak ada rakyat Gowa tercecer dari perhatian negara daerah.
Jika dibaca dalam kerangka sosiologis, seluruh program ini memperlihatkan satu hal, pemerintah hari ini sedang menerjemahkan adab budaya para pendahulu ke dalam kebutuhan zaman.
Gowa yang Beradab dan Maju
Melalui nilai-nilai kepemimpinan dan kebijakan yang berpihak pada rakyat, Hj. Husniah Talenrang menghadirkan kembali prinsip lama yang tetap relevan sepanjang masa bahwa kekuasaan bukanlah hak, tetapi amanah, bukan kehormatan pribadi, tetapi tanggung jawab untuk memuliakan rakyat.
Dengan menghidupkan kembali sipakainga’, sipakalabiri’, sipakatau, serta pilar adat ada’, rapang, dan bicara, ia menegaskan bahwa kemajuan Gowa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari perilaku pemimpin dan aparatur yang jujur, manusiawi, dan beradab.
Jika nilai-nilai ini terus dijaga, kejujuran, penghormatan, martabat, kehadiran pemimpin di tengah rakyat, komitmen menjaga stabilitas sosial, maka Gowa bukan hanya menjadi daerah yang berkembang, tetapi daerah yang bermartabat.
Dan pada fondasi itulah, harapan “Gowa Maju” menemukan makna sejatinya.
(Mangasa, November 2025
The post Hj. Husniah Talenrang Menggagas Kembalinya Adab Kepemimpinan Gowa appeared first on Teraskota.info.
]]>The post Menjaga Harmoni Dalam Pengelolaan BUMD: Antara Hukum, Ekonomi, Budaya dan Politik appeared first on Teraskota.info.
]]>BUMD sejak lama diposisikan bukan hanya sebagai lembaga bisnis, melainkan sebagai instrumen penting pembangunan daerah. Perannya menyentuh langsung kepentingan masyarakat, baik dalam meningkatkan pendapatan asli daerah, membuka lapangan kerja, maupun menghadirkan pelayanan publik yang lebih merata. Karena posisinya strategis, siapa yang memimpin di kursi direksi kerap menjadi sorotan publik, apalagi bila ada kaitan dengan lingkar kekuasaan politik.
Fenomena yang menarik muncul ketika seorang direktur BUMD sudah lebih dahulu menjabat sebelum keluarganya dipercaya rakyat sebagai Kepala Daerah. Secara hukum, hal ini sah, namun dalam politik kerap menimbulkan tafsir berbeda. Dari sinilah pertanyaan muncul: apakah sebaiknya sang direktur mundur demi menjaga etika, atau justru melanjutkan amanahnya sampai akhir masa pertanggungjawaban ?
Dalam membaca fenomena ini, pijakan hukum menjadi penting. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 menegaskan bahwa Direksi BUMD harus dipilih berdasarkan profesionalisme, sementara Permendagri Nomor 118 Tahun 2018 mewajibkan adanya rencana bisnis, rencana kerja, dan laporan pertanggungjawaban yang jelas. Bila pengangkatan dilakukan sebelum adanya hubungan kekuasaan, maka secara hukum posisinya tidak dapat dipermasalahkan.
Namun BUMD bukan sekadar soal legalitas. Ia juga pilar ekonomi daerah, penggerak aktivitas bisnis, dan penopang pendapatan asli daerah. Karena itu direksi dituntut menjaga manajemen yang sehat dan tata kelola yang transparan. Mekanisme pengawasan internal perlu diperkuat, sementara pemeriksaan oleh auditor independen seperti akuntan publik menjadi jaminan tambahan. Prinsip ini sejalan dengan delapan pilar good governance menurut UNDP pada 1997, yaitu transparansi, akuntabilitas, partisipasi, supremasi hukum, keadilan, efektivitas, efisiensi, dan konsensus.
Di sisi lain politik, memiliki bahasa sendiri. Persepsi publik kerap lebih kuat dari fakta hukum. Relasi keluarga antara Kepala Daerah dengan Direksi BUMD bisa memunculkan kecurigaan adanya konflik kepentingan. Di sinilah komunikasi publik yang terbuka dan transparansi menjadi penting. Menuntaskan masa jabatan dengan penuh tanggung jawab justru dapat menegaskan integritas dan menjaga kepercayaan publik, ketimbang mundur di tengah jalan yang justru bisa menimbulkan tafsir keliru.
Lebih jauh, di tanah Makassar, falsafah Siri’ na Pacce memberi rujukan moral. Siri’ berarti kehormatan, Pacce berarti empati dan solidaritas. Jabatan dalam bingkai budaya ini bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah yang harus dituntaskan untuk menjaga marwah diri, keluarga, dan daerah. Keputusan untuk menuntaskan amanah hingga akhir periode bukan sekedar pilihan pribadi, ia adalah langkah rasional yang menyeimbangkan tanggungjawab professional, integritas budaya dan kepercayaan publik.
Dari berbagai perspektif tersebut dapat dipahami bahwa Hukum memberi dasar yang kokoh, ekonomi dan tata kelola memberi arah, politik memberi dinamika, sementara budaya memberi ruh. Keempat dimensi ini perlu dijalankan dalam harmoni agar BUMD benar-benar menjadi pilar pembangunan dan wajah kehormatan daerah.
Oleh karena itu, direktur yang telah menjabat sebelum keluarganya memegang kekuasaan pemerintahan sebaiknya menuntaskan masa jabatannya hingga akhir. Dengan menegakkan tata kelola yang baik, mengedepankan transparansi, dan berpegang pada nilai Siri’ na Pacce. Dengan demikian legitimasi hukum dan politik dapat terjaga, kehormatan budaya tetap ditegakkan, dan Masyarakat dapat memahami serta menerima Keputusan yang diambil, bukan hanya dari prespektif etika pemerintahan, tetapi juga sudut pandang hukum, ekonomi, politik dan budaya demi menjaga harmoni dalam masyarakat dan pengelolaan BUMD.
The post Menjaga Harmoni Dalam Pengelolaan BUMD: Antara Hukum, Ekonomi, Budaya dan Politik appeared first on Teraskota.info.
]]>The post Secangkir Teh dan Hikmah Kehidupan; Jejak Rasa Dalam Perjalanan Manusia appeared first on Teraskota.info.
]]>Hidup dan kehidupan bukanlah sekadar perjalanan waktu, melainkan peristiwa rasa. Dari rasa kita mengenali manis dan pahit, senang dan sedih, riang dan pilu. Kalender mungkin berubah, tahun demi tahun berganti, tetapi rasa yang pernah singgah tetap meninggalkan jejak dalam ingatan. Ia menjadi penanda, bahwa hidup bukan soal hitungan detik, melainkan getaran yang mengisi detik itu.
Rasa yang kita alami sesungguhnya tidak lahir begitu saja. Ia terbentuk dari peristiwa panjang, dari banyak tangan dan hati yang saling bertaut. Sebagai penikmat teh, kita ambil contoh sederhana: secangkir teh hangat yang kita nikmati. Nikmatnya bukan sekadar hasil racikan hari ini. Ada benih yang pernah ditanam oleh banyak petani, pohon yang dirawat, daun yang dipetik, peluh yang menetes para pemetik teh, hingga keahlian yang mengolahnya. Mungkin sebagian orang yang terlibat sudah tiada, namun jejak mereka tetap hidup dalam secangkir teh yang kini kita rasakan.
Dari sana kita belajar bahwa hidup ini tidak pernah berdiri sendiri, untuk itu kita perlu melihat dan mengenal siapa yang terlibat dalam menghadirkan rasa, yang kemudian akan membuat kita semakin sadar bahwa ada persaudaraan yang mengikat sesama manusia. Tanpa mereka, rasa dalam hidup akan hambar. Justru karena ada banyak jiwa yang saling melengkapi, hidup menjadi kaya dan penuh warna.
Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa syukur. Kita memahami bahwa kebahagiaan yang kita rasakan hari ini bukan hanya buah dari usaha pribadi, tetapi juga hadiah dari banyak orang yang hadir, bekerja, bahkan berkorban tanpa kita sadari. Rasa, dengan demikian, adalah guru yang mengajarkan kita untuk menghargai, berterima kasih, dan menyadari betapa kehidupan kita selalu bertaut dengan kehidupan orang lain.
Disisi lain, kehidupan tidak selalu menghadirkan rasa manis. Ada pula saat-saat mengalami rasa pahi, kesal, amarah bahkan congkak mengambil tempat di hati kita. Rasa itu membuat hidup keruh dan menjauhkan kita dari sesama. Tetapi di balik getirnya, ada anugerah lain: ruang untuk saling memaafkan, kesempatan untuk bertobat, dan kekuatan untuk kembali merendahkan hati. Justru dari peristiwa itu kita belajar, bahwa rasa pahit pun bisa menjadi jalan menuju kejernihan jalan kembali pada rasa nyaman yang dipenuhi syukur.
Lebih dari sekadar perekat antar manusia, rasa juga menjadi jembatan antara kita dan Sang Khalik. Dari-Nya datang napas yang keluar masuk, memberi kita kesempatan untuk tetap hidup dan me-rasa. Dari-Nya anugerah penglihatan, yang memungkinkan kita menyaksikan wajah-wajah yang membersamai. Dari-Nya pula lahir kemampuan hati untuk mengenali cinta, persaudaraan, dan kasih sayang. Setiap rasa yang kita alami sejatinya adalah tanda kasih-Nya, sebuah pengingat bahwa kita tidak pernah berjalan seorang diri.
Maka, kehidupan yang sejati adalah kehidupan yang mau mengolah rasa: menyadari, menghargai, mensyukuri, dan membagikannya. Rasa bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk diwariskan. Dalam setiap rasa, kita menemukan jembatan antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan Sang Khalik. Sang Khalik menganjurkan kita untuk menyatakan nikmat-Nya dengan bersyukur “wa amma” bini’mati rabbika fa haddist (QS Adh Dhuha -11).
Pada akhirnya, hidup bukan sekadar deretan peristiwa, tetapi kisah yang mengalir, menyatukan, dan mengikat hati dalam persahabatan, serta menumbuhkan rasa syukur yang tak berkesudahan.
The post Secangkir Teh dan Hikmah Kehidupan; Jejak Rasa Dalam Perjalanan Manusia appeared first on Teraskota.info.
]]>The post Pejuang Kemanusiaan Global Sumud Flotilla, Doa Kami Menyertaimu appeared first on Teraskota.info.
]]>Perjalanan panjang kemanusiaan tidak pernah mengenal batas teritorial, agama, maupun kebangsaan. Di tengah situasi pelik yang masih terus melilit Palestina, kabar tentang keberangkatan dan tibanya armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang kini sudah berada hanya sekitar 5–10 kilometer dari wilayah Palestina, menjadi secercah harapan yang menyentuh nurani dunia.
Kehadiran flotilla ini bukan sekadar rombongan kapal yang membawa bantuan. Ia adalah simbol keberanian, tekad, serta persaudaraan lintas bangsa yang menolak tunduk pada keputusasaan. Nama Sumud yang melekat pada misi ini sendiri memiliki makna mendalam: keteguhan, kesabaran, dan ketabahan untuk tetap berdiri tegak menghadapi penindasan. Spirit inilah yang membuat perjalanan mereka menjadi inspirasi global.
Yang patut kita banggakan, misi kemanusiaan ini juga diikuti oleh relawan Indonesia yang bergabung bersama relawan dari 44 negara lainnya. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia tidak hanya menyuarakan solidaritas bagi Palestina lewat doa dan pernyataan sikap, tetapi juga hadir langsung di garis depan perjuangan kemanusiaan dunia.
Kita menyadari, jalan menuju Palestina tidaklah mudah. Ada risiko besar yang dihadapi para pejuang kemanusiaan, mulai dari ancaman cuaca laut, blokade, hingga potensi kriminalisasi oleh kekuatan yang tidak menginginkan terbukanya akses bantuan. Namun, sejarah mencatat bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus demi kemanusiaan akan meninggalkan jejak besar yang tidak mudah dihapus oleh waktu.
Dunia sedang menanti dengan doa dan harapan, termasuk kita di Indonesia, negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar yang selalu menunjukkan solidaritas bagi Palestina. Misi Global Sumud Flotilla ini adalah cermin nyata bahwa kepedulian tidak boleh berhenti pada ucapan semata, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata, meski penuh risiko.
Kita perlu merenung: jika mereka yang berasal dari berbagai belahan dunia mampu menempuh perjalanan panjang demi mengantarkan harapan dan kehidupan, maka apa yang bisa kita lakukan dari tempat kita berdiri? Minimal doa tulus dan dukungan moral harus terus kita panjatkan, sembari memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya solidaritas kemanusiaan.
Flotilla ini mungkin hanya terdiri dari beberapa kapal yang berlayar, tetapi sesungguhnya mereka membawa suara jutaan manusia yang rindu pada keadilan. Dan setiap doa yang dipanjatkan di berbagai penjuru dunia, termasuk dari tanah Makassar ini, adalah energi yang memperkuat langkah mereka.
Kepada para pejuang kemanusiaan Global Sumud Flotilla, termasuk relawan dari Indonesia, kami ingin sampaikan: kalian tidak sendirian. Doa kami menyertai perjalanan kalian, semoga Allah SWT melindungi dan menuntun hingga tujuan tercapai. Kemanusiaan tidak akan pernah kalah selama ada hati Anda yang terus berdoa untuk para pejuang kemanusiaan. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
The post Pejuang Kemanusiaan Global Sumud Flotilla, Doa Kami Menyertaimu appeared first on Teraskota.info.
]]>