add_action('wp_enqueue_scripts', function() { if(is_home()) { wp_enqueue_script('slick', get_template_directory_uri() . '/assets/js/slick.min.js', array('jquery'), '1.0', true); wp_enqueue_script('slick-headline', get_template_directory_uri() . '/assets/js/slick-headline-init.js', array('slick'), '1.0', true); } }); Narasi Archives | Teraskota.info https://teraskota.info/category/narasi/ Info Desa dan Perkotaan Fri, 13 Feb 2026 09:39:04 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.2 https://teraskota.info/wp-content/uploads/2026/04/cropped-IMG-20260423-WA0095-1-100x75.jpg Narasi Archives | Teraskota.info https://teraskota.info/category/narasi/ 32 32 INDONESIA: Antara Hujan, Waktu, dan Kesadaran Bernegara https://teraskota.info/indonesia-antara-hujan-waktu-dan-kesadaran-bernegara/ https://teraskota.info/indonesia-antara-hujan-waktu-dan-kesadaran-bernegara/#respond Fri, 13 Feb 2026 09:36:42 +0000 https://teraskota.info/?p=4955 Oleh: H. Hiyar Abdi Hamzah Daeng Nuntung Sore ini saya menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula. Langit Kota Makassar dan sekitarnya masih menyisakan awan tebal sejak malam hari. Hujan turun hampir tanpa jeda, meninggalkan genangan air di jalan-jalan, di lorong-lorong kampung, bahkan di halaman rumah warga. Aktivitas melambat, orang menunggu reda, dan alam seakan mengajak […]

The post INDONESIA: Antara Hujan, Waktu, dan Kesadaran Bernegara appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: H. Hiyar Abdi Hamzah

Daeng Nuntung

Sore ini saya menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula. Langit Kota Makassar dan sekitarnya masih menyisakan awan tebal sejak malam hari.

Hujan turun hampir tanpa jeda, meninggalkan genangan air di jalan-jalan, di lorong-lorong kampung, bahkan di halaman rumah warga.

Aktivitas melambat, orang menunggu reda, dan alam seakan mengajak kita berhenti sejenak untuk merenung.

Dalam keheningan hujan, saya memikirkan Indonesia.

Negeri ini sesungguhnya tidak membutuhkan “orang kuat” yang mendominasi, tetapi membutuhkan sistem yang kuat. Negara modern berdiri bukan karena figur yang mengendalikan segalanya, melainkan karena aturan yang berjalan, hukum yang bekerja, dan pemerintahan yang transparan. Ketika sistem sehat, siapa pun pemimpinnya tetap dapat menjalankan amanah dengan baik. Namun bila sistem lemah, sehebat apa pun sosoknya, negara akan mudah goyah.

Indonesia memerlukan pemerintahan yang efektif dengan masyarakat sipil yang kuat. Civil society bukan lawan negara, melainkan penyeimbang.

Ia menjadi pengingat ketika kekuasaan berlebihan, dan menjadi pendukung ketika kebijakan berpihak pada rakyat. Negara yang sehat adalah negara yang tidak takut dikritik, sebab kritik adalah bagian dari perawatan demokrasi.

Saya teringat filosofi seorang prajurit : ia tahu kapan harus maju bertempur, dan tahu kapan harus pulang memberi ruang bagi generasi baru. Kekuasaan pun demikian.

Jabatan bukan milik pribadi, melainkan amanah. Tidak ada kepemimpinan yang abadi, yang abadi hanyalah tanggung jawab kepada bangsa dan kepada Allah SWT.

Hujan hari ini seakan membawa pesan.

Genangan air mengingatkan kita bahwa setiap kelalaian akan tampak ketika ujian datang.

Drainase yang kurang, perencanaan yang tidak matang, atau kebijakan yang tidak berpihak, semuanya terlihat ketika alam berbicara.

Tetapi hujan juga membawa harapan.

Sesudah hujan, tanah menjadi subur, udara bersih, dan kehidupan tumbuh kembali.

Inilah makna yang sering kita lupakan: kesulitan adalah proses pemurnian. Bangsa pun demikian. Kritik, perbedaan pendapat, bahkan kegaduhan politik jika dihadapi dengan kebijaksanaan akan melahirkan kedewasaan bernegara.

Hari ini adalah Jumat terakhir sebelum berpuasa, Tak lama lagi kita memasuki bulan suci Ramadan. Waktu berjalan cepat, dan Ramadan selalu mengajarkan satu hal : pengendalian diri.

Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan ego, menahan keinginan menguasai, dan menahan nafsu kekuasaan.

Indonesia akan maju bukan karena satu figur, melainkan karena kesadaran bersama: pemimpin yang amanah, rakyat yang peduli, hukum yang adil, dan sistem yang transparan.

Negara yang kuat bukan negara yang ditopang ketakutan, tetapi yang dibangun dengan kepercayaan.

Seperti hujan sore ini, kita percaya bahwa setelahnya akan ada cerah. Sebab janji Allah SWT selalu benar setelah kesulitan, akan ada kemudahan.

Maka tugas kita bukan mencari siapa yang paling kuat, melainkan memastikan yang paling benarlah yang berjalan.

Indonesia tidak sedang menunggu seorang penyelamat.

Indonesia sedang menunggu kesadaran kita semua.

The post INDONESIA: Antara Hujan, Waktu, dan Kesadaran Bernegara appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/indonesia-antara-hujan-waktu-dan-kesadaran-bernegara/feed/ 0
Politik sebagai Jalan Pengabdian, Etika sebagai Penjaga Martabat https://teraskota.info/politik-sebagai-jalan-pengabdian-etika-sebagai-penjaga-martabat/ https://teraskota.info/politik-sebagai-jalan-pengabdian-etika-sebagai-penjaga-martabat/#respond Tue, 10 Feb 2026 23:51:52 +0000 https://teraskota.info/?p=4857 Oleh: Hadian Supriatna, S.P Politik sejatinya bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan jalan pengabdian. Di dalam negara demokrasi seperti Indonesia, politik adalah sarana konstitusional untuk mewujudkan cita-cita bernegara: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Namun harus diakui, tanpa etika, politik akan kehilangan ruhnya. Ia hanya menjadi panggung sandiwara yang melelahkan ramai janji, […]

The post Politik sebagai Jalan Pengabdian, Etika sebagai Penjaga Martabat appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: Hadian Supriatna, S.P

Politik sejatinya bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan jalan pengabdian. Di dalam negara demokrasi seperti Indonesia, politik adalah sarana konstitusional untuk mewujudkan cita-cita bernegara: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Namun harus diakui, tanpa etika, politik akan kehilangan ruhnya. Ia hanya menjadi panggung sandiwara yang melelahkan ramai janji, tetapi sunyi tanggung jawab.

Di tingkat desa, makna politik jauh lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Politik tidak selalu identik dengan pemilu atau kampanye, melainkan hadir dalam setiap musyawarah warga, dalam keputusan pembangunan jalan lingkungan, dalam pengelolaan bantuan sosial, hingga dalam keberpihakan pada petani, buruh, dan pelaku usaha kecil. Desa adalah ruang pertama tempat negara benar-benar dirasakan oleh rakyat.

Karena itu, politik desa seharusnya berwatak pelayanan. Kepala desa dan perangkatnya bukan penguasa, melainkan pengemban amanah masyarakat. Dalam budaya masyarakat kita khususnya budaya Sunda yang menjunjung silih asih, silih asah, dan silih asuh kepemimpinan tidak diukur dari kekuatan perintah, tetapi dari keteladanan sikap. Pemimpin harus hadir menenangkan, bukan mempertajam perbedaan.

Etika menjadi fondasi terpenting dalam menjalankan pemerintahan desa. Etika melahirkan kejujuran dalam pengelolaan anggaran, keadilan dalam pelayanan administrasi, serta keterbukaan dalam perencanaan pembangunan. Tanpa etika, jabatan hanya menjadi simbol; dengan etika, jabatan berubah menjadi kepercayaan. Masyarakat desa tidak hanya menilai program, tetapi juga menilai sikap bagaimana pemimpin menyapa, mendengar keluhan, dan menyelesaikan persoalan tanpa memandang golongan.

Politik yang beretika juga menjaga persatuan. Perbedaan pilihan dalam demokrasi adalah hal yang wajar, namun setelah itu masyarakat harus kembali sebagai satu keluarga besar desa. Jangan sampai kontestasi sesaat merusak persaudaraan yang telah terbangun puluhan tahun. Desa kuat karena gotong royongnya, bukan karena kompetisinya.

Pada akhirnya, politik terbaik adalah politik yang membumi: politik yang dekat dengan rakyat, menjunjung adat dan budaya, serta setia pada nilai-nilai Pancasila. Ketika etika menjadi pedoman, politik tidak lagi melelahkan, melainkan menghadirkan harapan. Desa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi tempat tumbuhnya kepercayaan antara negara dan rakyat.

Maka benar, politik adalah cara terbaik untuk berbakti selama ia dijalankan dengan nurani. Tanpa etika, politik hanya panggung; dengan etika, politik menjadi ibadah pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

The post Politik sebagai Jalan Pengabdian, Etika sebagai Penjaga Martabat appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/politik-sebagai-jalan-pengabdian-etika-sebagai-penjaga-martabat/feed/ 0
Perambahan Hutan: Saatnya Pemerintah Berhenti Saling Menyalahkan https://teraskota.info/perambahan-hutan-saatnya-pemerintah-berhenti-saling-menyalahkan/ https://teraskota.info/perambahan-hutan-saatnya-pemerintah-berhenti-saling-menyalahkan/#respond Fri, 19 Dec 2025 10:12:36 +0000 https://teraskota.info/?p=3370 H.Hiyar Abdi Daeng Nuntung Perambahan hutan di Indonesia bukan persoalan baru. Dari tahun ke tahun, isu ini terus berulang, seolah menjadi lingkaran masalah yang tak kunjung menemukan ujung. Hutan menyusut, konflik lahan meningkat, bencana ekologis semakin sering terjadi, namun yang kerap terlihat justru saling tuding antarlembaga dan antarlevel pemerintahan. Pemerintah pusat menyalahkan daerah, pemerintah daerah […]

The post Perambahan Hutan: Saatnya Pemerintah Berhenti Saling Menyalahkan appeared first on Teraskota.info.

]]>
H.Hiyar Abdi Daeng Nuntung

Perambahan hutan di Indonesia bukan persoalan baru. Dari tahun ke tahun, isu ini terus berulang, seolah menjadi lingkaran masalah yang tak kunjung menemukan ujung. Hutan menyusut, konflik lahan meningkat, bencana ekologis semakin sering terjadi, namun yang kerap terlihat justru saling tuding antarlembaga dan antarlevel pemerintahan. Pemerintah pusat menyalahkan daerah, pemerintah daerah menunjuk kewenangan pusat, sementara masyarakat di sekitar hutan kerap menjadi pihak yang paling terdampak.

Padahal, jika dicermati secara jujur, perambahan hutan tidak lahir dari satu sebab dan bukan pula tanggung jawab satu institusi. Ia merupakan akumulasi dari lemahnya tata kelola, tumpang tindih kebijakan, minimnya pengawasan, serta ketidakjelasan arah pembangunan berkelanjutan.

Masalah Kewenangan yang Tidak Sinkron

Pasca perubahan regulasi kehutanan dan penataan kewenangan, pemerintah pusat memegang peran dominan dalam pengelolaan kawasan hutan. Namun di sisi lain, pemerintah daerah tetap berhadapan langsung dengan realitas sosial di lapangan: masyarakat adat, petani kecil, konflik lahan, hingga tekanan ekonomi. Ketika terjadi perambahan, daerah sering kali disalahkan karena dianggap lalai, sementara ruang gerak daerah dalam pengambilan kebijakan justru sangat terbatas.

Akibatnya, penanganan perambahan hutan kerap bersifat reaktif, parsial, dan tidak berkelanjutan. Penertiban dilakukan sesaat, namun tanpa solusi sosial dan ekonomi yang jelas, perambahan kembali terjadi.

Pendapat Ahli: Akar Masalah Bukan Sekadar Penegakan Hukum

Guru Besar Kebijakan Lingkungan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Emil Salim, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa persoalan kerusakan hutan tidak bisa disederhanakan hanya pada lemahnya penegakan hukum. Menurutnya, perambahan hutan terjadi karena adanya ketimpangan antara kebutuhan hidup masyarakat dan ketidakmampuan negara menyediakan alternatif penghidupan yang layak.

Selama masyarakat di sekitar hutan tidak diberi akses ekonomi yang adil dan legal, maka hutan akan selalu berada dalam ancaman,” ujarnya.

Pandangan ini menunjukkan bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup. Dibutuhkan kebijakan yang menyentuh akar persoalan sosial.

Lemahnya Koordinasi Antar Lembaga

Masalah klasik lainnya adalah lemahnya koordinasi antar kementerian/lembaga serta antara pusat dan daerah. Program rehabilitasi hutan sering berjalan sendiri-sendiri, tanpa peta jalan yang jelas dan terintegrasi. Satu instansi berbicara konservasi, sementara yang lain mendorong investasi tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Pakar tata kelola pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Agus Heruanto Hadna, menilai bahwa ego sektoral menjadi penghambat utama dalam penyelamatan hutan.

Ketika masing-masing institusi lebih sibuk mempertahankan kewenangan daripada menyelesaikan masalah, maka hutan menjadi korban,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah membutuhkan satu komando kebijakan kehutanan yang kuat, konsisten, dan melibatkan daerah sebagai mitra, bukan sekadar pelaksana.

Masyarakat di Sekitar Hutan Jangan Terus Dijadikan Kambing Hitam

Dalam banyak kasus, masyarakat kecil yang tinggal di sekitar hutan sering menjadi pihak yang disalahkan. Mereka dituding sebagai perambah, tanpa melihat latar belakang ekonomi, sejarah penguasaan lahan, serta keterbatasan akses terhadap tanah produktif.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Zenzi Suhadi, menyatakan bahwa negara harus jujur melihat persoalan struktural di balik perambahan hutan.

Perambahan hutan bukan hanya soal masyarakat masuk kawasan hutan, tetapi juga soal kebijakan negara yang gagal melindungi ruang hidup rakyatnya,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pengakuan terhadap hak masyarakat adat dan skema perhutanan sosial yang benar-benar dijalankan, bukan sekadar jargon.

Saatnya Mengakhiri Saling Menyalahkan

Jika pemerintah terus terjebak dalam narasi saling menyalahkan, maka perambahan hutan akan terus berulang. Yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian untuk duduk bersama, mengevaluasi kebijakan secara terbuka, dan membangun sinergi lintas sektor.

Pemerintah pusat harus membuka ruang lebih luas bagi daerah dalam pengelolaan hutan, disertai kejelasan kewenangan dan dukungan anggaran. Pemerintah daerah harus meningkatkan pengawasan dan pendampingan masyarakat. Sementara itu, penegakan hukum harus menyasar aktor-aktor besar yang selama ini kerap luput dari jerat hukum.

Penutup

Perambahan hutan adalah cermin dari kegagalan tata kelola bersama. Hutan tidak rusak dalam semalam, dan tentu tidak akan pulih dengan saling menyalahkan. Negara harus hadir secara utuh: adil dalam kebijakan, tegas dalam penegakan hukum, dan bijak dalam melindungi rakyat serta lingkungan.

Jika hutan ingin diselamatkan, maka ego sektoral harus ditinggalkan. Sebab menjaga hutan bukan hanya soal kewenangan, melainkan soal tanggung jawab bersama terhadap masa depan bangsa.

The post Perambahan Hutan: Saatnya Pemerintah Berhenti Saling Menyalahkan appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/perambahan-hutan-saatnya-pemerintah-berhenti-saling-menyalahkan/feed/ 0
Paguyuban Desa Bukan Alat Politik, Tegakkan Marwah Organisasi dengan Integritas dan Kepatutan https://teraskota.info/paguyuban-desa-bukan-alat-politik-tegakkan-marwah-organisasi-dengan-integritas-dan-kepatutan/ https://teraskota.info/paguyuban-desa-bukan-alat-politik-tegakkan-marwah-organisasi-dengan-integritas-dan-kepatutan/#respond Sat, 29 Nov 2025 23:04:35 +0000 https://teraskota.info/?p=2978 Oleh: Hadian Supriatna, SP  Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika organisasi paguyuban pemerintahan desa kembali mengemuka. Bukan karena prestasi atau kontribusi bagi kemajuan desa, tetapi karena munculnya fenomena orang-orang yang memimpin organisasi tersebut tanpa pernah menjadi Kepala Desa, perangkat desa, maupun anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Bahkan ada yang tidak berdomisili di desa, namun mengambil posisi […]

The post Paguyuban Desa Bukan Alat Politik, Tegakkan Marwah Organisasi dengan Integritas dan Kepatutan appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: Hadian Supriatna, SP 

Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika organisasi paguyuban pemerintahan desa kembali mengemuka. Bukan karena prestasi atau kontribusi bagi kemajuan desa, tetapi karena munculnya fenomena orang-orang yang memimpin organisasi tersebut tanpa pernah menjadi Kepala Desa, perangkat desa, maupun anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Bahkan ada yang tidak berdomisili di desa, namun mengambil posisi strategis memimpin organisasi yang sejatinya lahir dari, oleh, dan untuk desa.

Di atas kertas, mereka sering berdalih bahwa kepedulianlah yang mendorong mereka memimpin. Namun di balik itu, tak sedikit yang justru menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) untuk kepentingan pribadi: merancang mekanisme Munas secara eksklusif, serta menjadikan organisasi desa sebagai kendaraan politik yang melenceng dari ruhnya sebagai wadah perjuangan pemerintahan desa.

Paguyuban Desa Memiliki Aturan Etik yang Jelas

Jika kita melihat paguyuban kepala daerah atau paguyuban anggota DPRD, syarat menjadi pengurus sangat jelas, harus sedang menjabat atau pernah menjabat jabatan tersebut. Ini logis, bagaimana mungkin seseorang memimpin organisasi profesi yang kompetensinya saja tidak pernah ia jalani?

Logika yang sama semestinya berlaku untuk organisasi pemerintahan desa. Jika seseorang tidak pernah menjadi Kepala Desa, perangkat desa, atau anggota BPD maka secara moral dan etik ia tidak memiliki legitimasi memimpin organisasi tersebut. Kepedulian tidak bisa menggantikan pengalaman struktural, terlebih untuk posisi puncak.

Organisasi pemerintahan desa bukan komunitas hobi. Ini adalah asosiasi profesi yang menyangkut urusan publik, jalur anggaran, dan advokasi regulasi. Karena itu integritas pengurus menjadi syarat mutlak.

Mendesain AD/ART untuk Kepentingan Pribadi Adalah Tindakan Menyesatkan

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika AD/ART organisasi dirancang bukan untuk memperkuat lembaga, tetapi untuk memperkuat elite kecil yang memimpin. Munas ditempatkan secara jauh, bahkan sering kali dipusatkan di ibu kota tanpa mempertimbangkan aksesibilitas ribuan aparat desa yang memiliki keterbatasan anggaran dan waktu.

Jika paguyuban desa hanya bisa diakses oleh segelintir orang, maka ia kehilangan marwahnya. Apalagi jika pengurus terpilih tidak pernah mengemban jabatan pemerintahan desa. Ini bukan hanya problem etik, tetapi problem legitimasi.

Paguyuban Desa Bukan Alat Politik

Penyelenggara desa harus belajar dari pengalaman. Terlalu banyak organisasi yang akhirnya terbelah, bukan karena perbedaan ide, melainkan karena ada kepentingan politik yang memanfaatkan paguyuban desa sebagai wadah mobilisasi.

Jika seseorang memimpin organisasi desa tanpa rekam jejak di desa, tanpa pengalaman mengelola pemerintahan desa, dan tanpa memahami tekanan regulasi serta beban tanggung jawab di lapangan, maka pertanyaannya sederhana.

Untuk apa ia memimpin organisasi tersebut?

Kepedulian sejati tidak membutuhkan kursi ketua. Kepedulian bisa diwujudkan melalui riset, pendampingan, advokasi, atau edukasi. Tetapi ketika seseorang mengakui dirinya bukan perangkat desa, bukan kepala desa, bukan BPD, tidak tinggal di desa, namun tetap bersikeras memimpin organisasi desa, maka publik patut bertanya,, Kepedulian atau kepentingan?

Saatnya Menjaga Marwah Organisasi Desa

Organisasi desa harus kembali kepada fungsinya untuk memperjuangkan kepentingan desa, meningkatkan kapasitas aparatur desa, memperkuat tata kelola, dan menjadi jembatan komunikasi dengan pemerintah daerah maupun pusat.

Untuk itu diperlukan pengurus yang memiliki:

1. Legitimasi moral pernah mengemban jabatan desa atau hidup di dalam ekosistem desa.

2. Legitimasi struktural memahami regulasi, mekanisme fiskal desa, dan dinamika sosial desa.

3. Legitimasi kultural mengakar di desa, bukan sekadar mengklaim kepedulian dari kejauhan.

Paguyuban desa tidak boleh menjadi panggung politik. Tidak boleh menjadi kendaraan pribadi. Tidak boleh dipimpin oleh orang yang menjadikan desa hanya sebagai slogan perjuangan tanpa pernah merasakan medan pertarungannya.

Organisasi desa adalah pondasi perjuangan pemerintahan desa. Keberadaannya harus dijaga dengan integritas, bukan ambisi. Karena itu, penting bagi kita semua para penyelenggara pemerintahan desa untuk memastikan bahwa paguyuban desa dipimpin oleh orang-orang yang memiliki rekam jejak, kredibilitas, dan komitmen yang jelas terhadap desa.

Bukan oleh mereka yang tidak pernah menjadi bagian dari desa, tetapi ingin “mengatur” desa dari jauh.

The post Paguyuban Desa Bukan Alat Politik, Tegakkan Marwah Organisasi dengan Integritas dan Kepatutan appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/paguyuban-desa-bukan-alat-politik-tegakkan-marwah-organisasi-dengan-integritas-dan-kepatutan/feed/ 0
Di Tengah Hilangnya Kemerdesaan, Masih Perlukah Euforia Peringatan Hari Desa? https://teraskota.info/di-tengah-hilangnya-kemerdesaan-masih-perlukah-euforia-peringatan-hari-desa/ https://teraskota.info/di-tengah-hilangnya-kemerdesaan-masih-perlukah-euforia-peringatan-hari-desa/#respond Fri, 28 Nov 2025 23:41:34 +0000 https://teraskota.info/?p=2944 Oleh: Hadian Supriatna, SP Setiap tahun, kita merayakan Hari Desa. Panggung digelar, baliho terpasang, seminar diselenggarakan, dan berbagai slogan kembali disuarakan. Namun di balik hingar-bingar itu, ada satu pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting dan semakin menggigit, apakah desa hari iniHafisn sungguh merdeka hingga pantas ber-euforia merayakan Hari Desa? Saya menulis ini bukan dalam nada […]

The post Di Tengah Hilangnya Kemerdesaan, Masih Perlukah Euforia Peringatan Hari Desa? appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: Hadian Supriatna, SP

Setiap tahun, kita merayakan Hari Desa. Panggung digelar, baliho terpasang, seminar diselenggarakan, dan berbagai slogan kembali disuarakan. Namun di balik hingar-bingar itu, ada satu pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting dan semakin menggigit, apakah desa hari iniHafisn sungguh merdeka hingga pantas ber-euforia merayakan Hari Desa?

Saya menulis ini bukan dalam nada pesimis, tetapi dalam kejujuran seorang kepala desa yang setiap hari bergulat dengan kenyataan antara semangat membangun dan keterbatasan ruang gerak, antara harapan warga dan rumitnya birokrasi, antara idealisme pemberdayaan dan kenyataan “hilangnya kemerdesaan desa” dalam banyak aspek.

1. Desa Kian Diatur, Bukan Diberdayakan.

Sejak awal, desa didesain sebagai entitas otonom dengan kearifan lokal, struktur sosial, dan kemampuan mengatur rumah tangganya sendiri. Namun dalam praktiknya, desa lebih sering menjadi lokus program daripada subjek pembangunan.

Regulasi terus bertambah, kewajiban administratif makin menumpuk, laporan makin detail, dan ruang inovasi makin sempit. Desa seperti diposisikan sebagai instansi pelaksana, bukan pemerintahan lokal yang merdeka. Padahal, kemerdekaan desa bukan hanya soal dana, tetapi soal mempercayai desa dalam mengambil keputusan.

2. Kepala Desa Pemimpin yang Dibebani, Bukan Didukung.

Hari ini, tidak sedikit kepala desa di seluruh Indonesia merasa semakin terbebani oleh tanggung jawab administratif yang nyaris setara dengan instansi pemerintah kabupaten, namun tidak disertai dengan fasilitas, sumber daya manusia, dan perlindungan hukum yang memadai.

Kepala desa dituntut serba bisa mengatur pembangunan, mengelola anggaran, mengurus administrasi kependudukan, menyelesaikan konflik, menjadi ujung tombak bantuan program, bahkan terkadang menjadi semacam “posko pelayanan umum” yang tidak pernah tidur.

Tetapi ketika masalah muncul akibat kompleksitas regulasi, kepala desa pula yang paling mudah disalahkan. Pada titik ini, pertanyaan itu kembali menyeruak,, apa arti Hari Desa jika pemimpinnya sendiri belum merdeka?

3. Desa Terjebak Antara Harapan dan Kenyataan Fiskal.

Kita patut bersyukur ada Dana Desa. Namun, jangan tutup mata,, banyak desa masih sangat tergantung pada transfer pemerintah. Kemampuan Pendapatan Asli Desa (PADes) terbatas. Sumber ekonomi desa sering belum digarap optimal.

Kita berbicara kemandirian, tetapi dengan ruang fiskal yang belum benar-benar memerdekakan desa. Masih banyak desa yang ingin membangun ini dan itu, tetapi tersandera oleh prioritas yang sudah ditentukan dari atas.

Apakah desa boleh memilih prioritas sesuai kebutuhan lokal? Boleh. Tetapi tetap saja ada batasan-batasan yang membuat desa “merdeka secara teori, terikat secara praktik”.

4. Euforia Peringatan Hari Desa, Perlukah atau Justru Menyakitkan?

Pada satu sisi, peringatan hari desa adalah momen penting untuk mengingatkan negara bahwa desa adalah fondasi bangsa. Namun pada sisi lain, euforia berlebihan terasa janggal ketika desa justru masih harus berjuang keras untuk merdeka dalam mengelola dirinya sendiri.

Hari Desa seharusnya bukan sekadar pesta simbolik, tetapi momentum merefleksikan relasi desa pemerintah di semua tingkatan.. Evaluasi sejauh mana regulasi berpihak pada desa… Ajakan untuk mengembalikan kepercayaan dan kewenangan ke desa… Seruan memperkuat perlindungan hukum bagi kepala desa dan perangkatnya… Kesadaran bahwa desa bukan objek laporan, tapi subjek pembangunan!!

Peringatan tanpa perubahan hanya akan menjadi seremoni yang penuh slogan tetapi kosong makna.

5. Kemerdesaan Desa Harus Diperjuangkan, Bukan Dirayakan

Hari ini, banyak kepala desa dan masyarakatnya justru merindukan sesuatu yang dulu pernah mereka miliki, keleluasaan untuk menentukan masa depan desa sendiri.

Kita tidak sedang menolak regulasi. Kita hanya ingin regulasi yang memerdekakan, bukan yang mengekang.

Kita tidak meminta perlakuan istimewa. Kita hanya meminta keadilan dalam kebijakan.

Kita tidak menolak pengawasan. Kita hanya ingin pengawasan yang mendidik, bukan menjerat.

Jika tiga hal ini belum diwujudkan

1. kepercayaan pada desa

2. kewenangan yang nyata

3. perlindungan hukum yang kuat

Maka “kemerdesaan desa” masih jauh dari harapan. Jadi, Masih Perlukah Ber-euforia?

Jawaban saya:

Kita tetap perlu memperingati Hari Desa, tetapi bukan dengan euforia, melainkan dengan kesadaran dan perlawanan moral.

Hari Desa seharusnya menjadi hari refleksi, bukan hanya perayaan

Hari memperjuangkan kemerdesaan, bukan sekadar seremonial

Hari menegaskan kembali bahwa masa depan Indonesia dimulai dari desa

Karena desa bukan pinggiran. Desa adalah pusat ketahanan sosial, ekonomi, dan budaya bangsa.

Dan selama kemerdesaan desa belum sepenuhnya kembali, maka Hari Desa bukanlah pesta, melainkan pengingat bahwa perjuangan kita belum selesai.

The post Di Tengah Hilangnya Kemerdesaan, Masih Perlukah Euforia Peringatan Hari Desa? appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/di-tengah-hilangnya-kemerdesaan-masih-perlukah-euforia-peringatan-hari-desa/feed/ 0
Pesan Menhan dan Ancaman Tertutupnya Bandara Morowali, “Tidak Boleh Ada Republik di Dalam Republik” https://teraskota.info/tidak-boleh-ada-republik-di-dalam-republik-pesan-menhan-dan-ancaman-tertutupnya-bandara-morowali/ https://teraskota.info/tidak-boleh-ada-republik-di-dalam-republik-pesan-menhan-dan-ancaman-tertutupnya-bandara-morowali/#respond Tue, 25 Nov 2025 10:47:37 +0000 https://teraskota.info/?p=2902 Oleh: H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung Pernyataan Menhan, “Tidak boleh ada republik di dalam republik,” bukan sekadar peringatan, tetapi alarm keras bagi seluruh elemen negara. Ungkapan itu mencuat ketika terungkap bahwa Bandara Morowali beroperasi tanpa kehadiran otoritas negara, bahkan aparat keamanan pun disebut tidak dapat masuk ke kawasan tersebut. Jika kondisi itu benar terjadi, maka […]

The post Pesan Menhan dan Ancaman Tertutupnya Bandara Morowali, “Tidak Boleh Ada Republik di Dalam Republik” appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung

Pernyataan Menhan, “Tidak boleh ada republik di dalam republik,” bukan sekadar peringatan, tetapi alarm keras bagi seluruh elemen negara. Ungkapan itu mencuat ketika terungkap bahwa Bandara Morowali beroperasi tanpa kehadiran otoritas negara, bahkan aparat keamanan pun disebut tidak dapat masuk ke kawasan tersebut.

Jika kondisi itu benar terjadi, maka kita sedang menghadapi gejala serius: menguatnya enclave privat yang tak tersentuh regulasi negara. Dan inilah yang saya sebut sebagai penyempitan kedaulatan secara perlahan.

Bandara Simbol Kedaulatan, Bukan Infrastruktur Korporasi

Bandara bukan sekadar fasilitas transportasi. Ia adalah pintu batas negara wilayah yang seharusnya berada di bawah kontrol penuh otoritas penerbangan, kepabeanan, imigrasi, TNI-Polri dan regulasi keselamatan nasional.

Jika sebuah bandara berdiri dan beroperasi tanpa akses negara, maka itu bukan sekadar pelanggaran administratif, itu adalah ancaman langsung terhadap kedaulatan.

Karena bandara adalah jalur mobilitas manusia, logistik, bahkan alat produksi strategis. Bila jalur ini tertutup dari kontrol negara, maka ia berpotensi menjadi ruang abu-abu kekuasaan yang membahayakan kepentingan nasional.

Untuk Kepentingan Siapa Bandara Ini Dibangun Tertutup?

Pertanyaan Menhan dan juga publik sangat wajar. Bandara Morowali dibangun untuk siapa?! Untuk kepentingan nasional atau kepentingan korporasi tertentu?

Morowali adalah kawasan industri strategis dengan investasi besar, terutama sektor nikel. Tidak ada yang salah dengan investasi, negara justru membutuhkan. Tetapi ketika korporasi membangun ruang transportasi eksklusif tanpa kontrol negara, maka itu menciptakan ketimpangan otoritas, wilayah abu-abu hukum dan potensi penyalahgunaan alur logistik maupun mobilitas tenaga kerja. Jika negara tidak bisa masuk, maka siapa yang sebenarnya berkuasa?

Negara Tidak Boleh Absen di Wilayah Strategis

Indonesia adalah negara hukum. Semua pihak bahkan investor terbesar sekalipun harus tunduk pada konstitusi, regulasi, dan otoritas negara.

Setiap upaya memprivatisasi wilayah strategis adalah bentuk perongrongan terhadap sistem negara-bangsa. Dan di sinilah relevansi pernyataan Menhan, Tidak boleh ada republik di dalam republik.

Ini adalah garis tegas bahwa kedaulatan negara tidak bisa dinegosiasikan atas nama investasi, fasilitas, atau kepentingan ekonomi tertentu. Investasi Boleh Besar, Tapi Kedaulatan Harus Lebih Besar

Indonesia bukan anti investasi. Yang kita tolak adalah model investasi yang menciptakan enclave tertutup, meminggirkan negara, dan mengerdilkan kewenangan aparat.

Investasi harus tumbuh, tetapi kedaulatan negara harus tetap menjadi panglimanya. Karena begitu kedaulatan dilepas, tidak ada jaminan bahwa kepentingan rakyat masih menjadi prioritas. Kedaulatan bukan barang dagangan; ia adalah identitas negara.

Penutup: Menegakkan Kembali Batas Negara

Kasus Bandara Morowali adalah refleksi penting. Negara perlu segera;

1. Melakukan audit total terhadap izin, operasional, dan akses otoritas keamanan.

2. Menentukan standar nasional untuk setiap bandara, publik maupun swasta.

3. Menegakkan kontrol penuh, bukan hanya administratif, tetapi juga keamanan.

4. Mengakhiri seluruh bentuk zona eksklusif yang tidak tunduk pada regulasi negara.

Karena sebuah negara kuat bukan diukur dari besarnya investasi, tetapi dari tegaknya kedaulatan di setiap jengkal wilayahnya. Dan benar kata Menhan; Republik Indonesia hanya satu. Tidak boleh ada republik lain berdiri di dalamnya.

The post Pesan Menhan dan Ancaman Tertutupnya Bandara Morowali, “Tidak Boleh Ada Republik di Dalam Republik” appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/tidak-boleh-ada-republik-di-dalam-republik-pesan-menhan-dan-ancaman-tertutupnya-bandara-morowali/feed/ 0
Investasi, Legalitas, dan Keberlanjutan: Mengapa Publik Perlu Mendengar Versi Kalla Group https://teraskota.info/investasi-legalitas-dan-keberlanjutan-mengapa-publik-perlu-mendengar-versi-kalla-group/ https://teraskota.info/investasi-legalitas-dan-keberlanjutan-mengapa-publik-perlu-mendengar-versi-kalla-group/#respond Fri, 21 Nov 2025 12:48:23 +0000 https://teraskota.info/?p=2825 Oleh: H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung Polemik pertanahan antara Kalla Group dan PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) menjadi salah satu isu ruang yang paling menyedot perhatian publik di Sulawesi Selatan dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah derasnya informasi yang berseliweran, publik sering kali menerima narasi dalam bentuk potongan tidak utuh, tidak seimbang, bahkan sebagian […]

The post Investasi, Legalitas, dan Keberlanjutan: Mengapa Publik Perlu Mendengar Versi Kalla Group appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung

Polemik pertanahan antara Kalla Group dan PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD) menjadi salah satu isu ruang yang paling menyedot perhatian publik di Sulawesi Selatan dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah derasnya informasi yang berseliweran, publik sering kali menerima narasi dalam bentuk potongan tidak utuh, tidak seimbang, bahkan sebagian bergerak tanpa verifikasi.

Dalam suasana seperti itu, penting bagi publik untuk mendengarkan seluruh perspektif, termasuk dari Kalla Group sebagai salah satu entitas bisnis lokal yang selama puluhan tahun ikut menumbuhkan perekonomian Sulsel. Untuk memahami persoalan lahan secara lebih jernih, perlu dilihat bagaimana aspek investasi, legalitas, dan keberlanjutan pembangunan saling berkaitan dan mengapa versi Kalla Group pantas mendapat perhatian yang adil.

Sulawesi Selatan sedang bergerak menjadi pusat pertumbuhan kawasan timur Indonesia. Momentum ini membutuhkan stabilitas investasi dan kepastian hukum, dua hal yang telah menjadi fondasi hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Kalla Group selama bertahun-tahun menjadi salah satu kelompok usaha yang konsisten menanamkan investasi dengan karakteristik, berorientasi jangka panjang, fokus pada penguatan ekonomi daerah dan memiliki rekam jejak kontribusi sosial.

Karena itu, ketika muncul sengketa terkait lahan, persoalannya tidak hanya menyangkut dua perusahaan, melainkan juga menyangkut kepercayaan publik terhadap kepastian berusaha, keamanan investasi lokal, masa depan kawasan yang direncanakan untuk pembangunan, serta dampak ekonomi yang bergulir ke masyarakat.

Jika konflik lahan tidak dilihat secara proporsional, ada risiko munculnya ketidakpastian baru, yang pada akhirnya merugikan masyarakat luas.

Salah satu poin penting yang disampaikan Kalla Group adalah komitmen mereka pada legalitas kepemilikan. Dalam banyak kasus pertanahan di Indonesia, tumpang tindih dokumen menjadi pemicu konflik.

Namun, dalam konteks ini, Kalla Group menegaskan bahwa mereka memiliki dasar legal yang kuat, dokumen formal diperoleh melalui proses resmi dan setiap langkah dilakukan mengikuti aturan negara. Poin ini penting bagi publik, Kenapa?

Karena negara berjalan atas kepastian hukum. Jika entitas yang memegang dokumen legal justru diragukan atau dibayangi narasi negatif sebelum proses hukum selesai, maka preseden berbahaya akan terbentuk. Investor lain akan ragu, masyarakat menjadi bingung, dan pemerintah daerah berada dalam tekanan.

Dalam konteks kebijakan publik, hal paling penting untuk dijaga adalah konsistensi penegakan aturan. Ketika legalitas dihormati, stabilitas ruang ikut terjaga.

Kalla Group dan Visi Keberlanjutan

Salah satu aspek yang sering terlupakan dalam polemik ini adalah bagaimana Kalla Group berbicara tentang keberlanjutan kawasan. Kawasan yang sedang disengketakan merupakan wilayah strategis dengan potensi wisata, sosial, dan ekonomi.

Dalam berbagai kesempatan, Kalla Group mengedepankan pendekatan yang menyeimbangkan:

1. pemanfaatan ruang,

2. perlindungan lingkungan,

3. pengembangan sektor jasa, dan

4. pelibatan masyarakat dalam denyut ekonomi kawasan.

Pendekatan ini mencerminkan karakter pembangunan modern, tidak hanya membangun gedung atau kawasan, tetapi membangun ekosistem. Ketika publik mendengar perspektif ini, terlihat bahwa konflik ini bukan soal rebutan lahan semata, tetapi juga soal arah masa depan ruang Sulawesi Selatan.

Dimensi Budaya dalam Konflik Ruang

Sebagai pemerhati budaya, saya melihat persoalan tanah bukan hanya persoalan sertifikat dan investasi. Tanah dalam budaya Bugis-Makassar mengandung makna atinna Lino inti kehidupan, sumber identitas, dan ruang yang mengikat sejarah sosial.

Karena itu, setiap konflik tanah pasti menggugah rasa emosional masyarakat. Namun justru karena alasan itu, penyelesaiannya harus ditempuh secara beradab, terukur, dan menghormati konteks kearifan lokal.

Dalam konteks ini, langkah Kalla Group untuk menempuh jalur legal, mengedepankan klarifikasi, serta tetap mengajak pemerintah dan masyarakat berdialog adalah pendekatan yang sejalan dengan nilai budaya kita:
membuat sesuatu menjadi rusak atau berantakan. dan menjunjung siri’ dalam kerangka modern.

Mengapa Publik Perlu Mendengar Versi Kalla Group

Ada setidaknya tiga alasan kuat mengapa publik berhak dan perlu mendengar perspektif Kalla Group dalam polemik ini:

1. Untuk menjaga keseimbangan informasi publik. Opini yang terbentuk di masyarakat harus berbasis informasi lengkap, bukan potongan narasi.

2. Untuk memelihara kepastian investasi. Investasi besar yang berpotensi membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan memperkuat infrastruktur ekonomi tidak boleh diganggu oleh misinformasi.

3. Untuk memastikan proses hukum berlangsung objektif. Ketika publik memahami bahwa Kalla Group memegang dasar legal formal, maka ruang untuk spekulasi emosional dapat ditekan.

Di tengah era keterbukaan, setiap pihak berhak didengar. Dan dalam kasus ini, Kalla Group menyampaikan argumentasi legal yang patut dikaji secara terbuka.

Sulawesi Selatan sudah terlalu sering menyaksikan konflik lahan yang berlarut-larut, menguras energi publik, merugikan ekonomi daerah, dan melemahkan rasa saling percaya. Oleh karena itu, polemik antara Kalla dan GMTD harus dilihat sebagai momentum untuk memperkuat kerangka hukum dan budaya pembangunan kita.

Dukungan kepada posisi Kalla Group bukan soal fanatisme korporasi, tetapi soal penghormatan pada legalitas, kepastian ruang, stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pembangunan.

Ketika kita mendengar secara objektif, kita menemukan bahwa Kalla Group membawa perspektif yang penting bagi masa depan ruang Sulsel, perspektif yang bertumpu pada legalitas, rasionalitas, dan kepentingan jangka panjang.

Dan pada akhirnya, ruang publik yang sehat adalah ruang yang mampu menampung semua suara, termasuk suara yang berupaya menjaga kepastian hukum dan masa depan kawasan kita.

The post Investasi, Legalitas, dan Keberlanjutan: Mengapa Publik Perlu Mendengar Versi Kalla Group appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/investasi-legalitas-dan-keberlanjutan-mengapa-publik-perlu-mendengar-versi-kalla-group/feed/ 0
Pertaruhan Besar: Ketika Sebuah Entitas Baru Begitu Dimanjakan di Saat Kiprahnya Belum Teruji https://teraskota.info/pertaruhan-besar-ketika-sebuah-entitas-baru-begitu-dimanjakan-di-saat-kiprahnya-belum-teruji/ https://teraskota.info/pertaruhan-besar-ketika-sebuah-entitas-baru-begitu-dimanjakan-di-saat-kiprahnya-belum-teruji/#respond Tue, 18 Nov 2025 02:00:55 +0000 https://teraskota.info/?p=2760   Oleh: Hadian Supriatna, SP Dalam dinamika pembangunan daerah, sering kali kita menyaksikan bagaimana sebuah entitas baru, baik lembaga, program, maupun badan khusus mendapatkan perhatian dan fasilitas sangat besar dari pemerintah maupun para pemangku kepentingan. Sayangnya, perhatian yang luar biasa ini tidak selalu diiringi dengan rekam jejak, transparansi, atau kapasitas yang memadai. Akibatnya, publik justru […]

The post Pertaruhan Besar: Ketika Sebuah Entitas Baru Begitu Dimanjakan di Saat Kiprahnya Belum Teruji appeared first on Teraskota.info.

]]>
 

Oleh: Hadian Supriatna, SP

Dalam dinamika pembangunan daerah, sering kali kita menyaksikan bagaimana sebuah entitas baru, baik lembaga, program, maupun badan khusus mendapatkan perhatian dan fasilitas sangat besar dari pemerintah maupun para pemangku kepentingan.

Sayangnya, perhatian yang luar biasa ini tidak selalu diiringi dengan rekam jejak, transparansi, atau kapasitas yang memadai. Akibatnya, publik justru dibuat bertanya-tanya, “apakah kemudahan dan limpahan dukungan ini pantas diberikan sejak awal?”. Atau ini merupakan pertaruhan besar yang bisa berdampak buruk di kemudian hari?

Fenomena “pemanjaan dini” terhadap entitas baru inilah yang perlu mendapat sorotan kritis. Apalagi jika fasilitas, akses anggaran, atau kewenangan diberikan tanpa proses uji kelayakan yang jelas dan akuntabel. Dalam konteks pembangunan desa dan pemerintahan daerah, keberadaan lembaga atau program baru seharusnya membawa solusi, bukan menambah potensi persoalan baru.

Mewaspadai Ketidakseimbangan Prioritas

Satu hal yang perlu kita akui bersama adalah bahwa pemerintahan modern tidak boleh bekerja berbasis “like and dislike”. Setiap lembaga wajib dinilai berdasarkan kinerja, bukan sekadar kedekatan atau kepentingan tertentu. Ketika sebuah entitas baru langsung disuguhi fasilitas besar, sementara lembaga atau program yang sudah lama berkontribusi justru kurang diperhatikan, maka terjadi ketidakseimbangan prioritas yang patut dikritisi.

Ini bukan hanya soal keadilan alokasi anggaran, tetapi juga soal pesan moral yang disampaikan kepada masyarakat: apakah kita sedang menciptakan ruang yang sehat bagi kompetisi positif, atau justru memperlihatkan bahwa prestasi bukan lagi dasar pengambilan keputusan?

Risiko Tinggi Tanpa Evaluasi

Setiap kebijakan publik adalah pertaruhan. Namun ada perbedaan antara pertaruhan yang terukur dengan pertaruhan yang sembrono. Ketika sebuah entitas baru diberi kewenangan dan dana besar tanpa diuji, tanpa prosedur yang memadai, dan tanpa melibatkan stakeholder yang terdampak, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kredibilitas pemerintah, melainkan juga keberlanjutan pembangunan dan kepercayaan publik.

Padahal, prinsip governance yang baik mengharuskan adanya, transparansi, evaluasi berkala, keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas, dan landasan hukum yang kuat.

Jika empat prinsip ini diabaikan, maka entitas baru yang dimanjakan sejak awal berpotensi menjadi beban, bahkan memicu konflik sosial maupun birokrasi.

Belajar dari Lembaga dan Program yang Sudah Teruji

Banyak lembaga dan program pembangunan di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten yang telah bekerja keras bertahun-tahun, menghasilkan capaian nyata bagi masyarakat. Namun sering kali mereka tidak mendapatkan perhatian sebesar entitas baru yang masih “kosong portofolio”.

Inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan, pembangunan bukan pertunjukan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, pengalaman, dan kapasitas. Maka sangat wajar jika publik mempertanyakan ketika sesuatu yang masih berstatus belum jelas track record-nya tiba-tiba mendapatkan fasilitas super-premium.

Menempatkan Rasionalitas di Atas Euforia

Kita perlu memastikan bahwa setiap kebijakan lahir dari nalar dan analisis obyektif, bukan euforia pencitraan atau dorongan kepentingan sesaat. Setiap entitas baru tentu harus diberikan ruang berkembang, tetapi bukan berarti harus dimanjakan tanpa batas. Kapasitas harus dibuktikan, bukan diberikan begitu saja.

Dalam konteks ini, kita sebagai pemerintah desa pun merasakan dampak langsung dari ketidakseimbangan kebijakan di tingkat atas. Program desa yang sudah berjalan baik sering terabaikan, sementara sesuatu yang masih baru justru mendapat prioritas. Jika pola seperti ini terus dibiarkan, maka efektivitas pembangunan dapat terganggu, dan masyarakat lah yang akhirnya dirugikan.

Penutup: Pembangunan Bukan Arena Eksperimen

Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang akuntabel, terukur, dan berbasis kebutuhan masyarakat. Kita tidak boleh menjadikan daerah sebagai arena eksperimen atau “tempat percobaan” bagi entitas yang belum teruji. Dukungan boleh diberikan, tetapi harus diiringi mekanisme pengawasan dan penilaian yang ketat.

Pertaruhan besar hanya layak dilakukan jika risikonya terukur. Jika tidak, yang kita hadapi bukan lagi pembangunan, melainkan perjudian kebijakan.

The post Pertaruhan Besar: Ketika Sebuah Entitas Baru Begitu Dimanjakan di Saat Kiprahnya Belum Teruji appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/pertaruhan-besar-ketika-sebuah-entitas-baru-begitu-dimanjakan-di-saat-kiprahnya-belum-teruji/feed/ 0
705 Tahun Gowa: Momentum Emas bagi Pengusaha dan UMKM Menguatkan Personal Branding https://teraskota.info/705-tahun-gowa-momentum-emas-bagi-pengusaha-dan-umkm-menguatkan-personal-branding/ https://teraskota.info/705-tahun-gowa-momentum-emas-bagi-pengusaha-dan-umkm-menguatkan-personal-branding/#respond Mon, 17 Nov 2025 00:36:40 +0000 https://teraskota.info/?p=2727 Oleh: Rahmawati Daeng Romba Peringatan Hari Jadi Kabupaten Gowa ke-705 bukan hanya perayaan sejarah panjang sebuah daerah yang kaya budaya, tetapi juga momentum penting untuk menatap masa depan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing. Dalam dinamika ekonomi modern, UMKM dan pengusaha lokal adalah tulang punggung pergerakan ekonomi daerah. Namun di tengah persaingan yang semakin […]

The post 705 Tahun Gowa: Momentum Emas bagi Pengusaha dan UMKM Menguatkan Personal Branding appeared first on Teraskota.info.

]]>
Oleh: Rahmawati Daeng Romba

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Gowa ke-705 bukan hanya perayaan sejarah panjang sebuah daerah yang kaya budaya, tetapi juga momentum penting untuk menatap masa depan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing. Dalam dinamika ekonomi modern, UMKM dan pengusaha lokal adalah tulang punggung pergerakan ekonomi daerah. Namun di tengah persaingan yang semakin terbuka dan perkembangan teknologi yang tidak lagi mengenal batas, kualitas produk saja tidak cukup, dibutuhkan personal branding yang kuat untuk bertahan dan tumbuh.

Gowa hari ini memiliki energi baru: semangat kebersamaan, perbaikan infrastruktur, kemajuan digital, dan dukungan ekosistem usaha yang semakin terbentuk. Semua ini menjadi peluang strategis bagi pelaku UMKM dan pengusaha untuk memperkuat identitas bisnisnya, meningkatkan kepercayaan publik, dan memperluas pasar.

UMKM sebagai Pondasi Ekonomi, Personal Branding sebagai Mesin Pendorong

Di seluruh Indonesia, UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap perekonomian nasional. Di Gowa, kontribusi UMKM juga menjadi penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari kuliner, kerajinan, fashion, pertanian olahan, hingga jasa kreatif. Namun tantangan klasik tetap sama: keterbatasan modal, minimnya akses pasar, rendahnya visibilitas, dan persaingan yang semakin ketat.

Di sinilah pentingnya personal branding.
Personal branding bukan sekedar membuat logo atau nama usaha, tetapi bagaimana pengusaha, sebagai individu menjadi wajah dari kualitas, nilai, dan kepercayaan bisnisnya. Di era digital, masyarakat membeli bukan hanya produk, tetapi juga membeli cerita dan integritas dari pemiliknya.

Pengusaha yang mampu menunjukkan keunggulan dirinya, kejujuran, konsistensi, kualitas layanan, serta kepedulian sosial akan lebih mudah membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Inilah modal yang tidak bisa ditiru hanya dengan harga murah atau promosi sesaat.

Gowa 705 Tahun: Identitas Lokal yang Menjadi Kekuatan Branding

Gowa memiliki warisan budaya yang luar biasa (siri’ na pacce) semangat keberanian, kebijaksanaan para leluhur, dan sejarah maritim yang membentuk karakter masyarakat. Ini bukan hanya warisan sejarah, tetapi sumber kekuatan naratif bagi usaha lokal.

UMKM dan pengusaha Gowa dapat menjadikan identitas lokal ini sebagai diferensiasi produk dan keunikan personal branding. Misalnya:

Menonjolkan kejujuran sebagai bagian dari nilai siri’.

Menanamkan keberanian untuk berinovasi sebagai cermin jiwa kepemimpinan Gowa.

Mengangkat motif lokal, cita rasa khas, atau filosofi budaya sebagai nilai tambah produk.

Menampilkan karakter pengusaha sebagai representasi budaya Gowa yang ramah, tegas, dan profesional.

Ketika identitas lokal dikelola sebagai bagian dari personal branding, maka produk Gowa tidak hanya bersaing secara harga, tetapi memiliki cerita yang membuatnya layak diperhitungkan di pasar nasional.

Transformasi Digital: Ruang Baru Pengusaha Gowa

Momentum 705 tahun ini terjadi di era yang sangat menentukan: transformasi digital.
Media sosial, marketplace, konten kreatif, hingga teknologi pemasaran sudah bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan dasar dalam dunia usaha.

Pengusaha yang mampu memanfaatkan teknologi tidak lagi dibatasi geografis. Produk dari Pallangga, Somba Opu, Bajeng, atau Tinggimoncong bisa menjangkau Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri hanya dengan strategi personal branding yang konsisten di media sosial.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh pelaku UMKM:

1. Membangun kehadiran digital yang autentik, posting aktivitas usaha, proses produksi, atau layanan pelanggan.

2. Menunjukkan wajah pengusaha, pelanggan lebih percaya jika mengenal siapa pemiliknya.

3. Menceritakan perjalanan usaha — cerita perjuangan lebih bernilai daripada iklan.

4. Menggunakan konten edukatif — berbagi tips usaha, nilai budaya, atau proses kreatif.

5. Berkomitmen pada kualitas dan pelayanan branding terbaik tetaplah pelayanan.

Gowa memiliki SDM kreatif dan generasi muda digital native yang bisa menjadi akselerator kemajuan UMKM jika diarahkan dengan baik.

Sinergi Pemerintah dan Pelaku Usaha: Kunci Ekosistem yang Kuat

Personal branding tidak bisa tumbuh tanpa didukung ekosistem yang sehat. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dinas terkait, dunia usaha, perbankan, dan komunitas UMKM.

Dukungan pemerintah Kabupaten Gowa dalam penguatan ekonomi rakyat, pelatihan digital marketing, fasilitasi permodalan, hingga ruang pamer produk lokal merupakan fondasi penting yang perlu terus diperluas. Sinergi ini harus dipadukan dengan keberanian pengusaha untuk meningkatkan kualitas, memperbaiki pelayanan, dan mengembangkan jaringan.

UMKM akan tumbuh jika pemerintah membuka jalan, dan pengusaha melangkah dengan visi yang kuat.

Penutup: Saatnya Pengusaha Gowa Tampil Lebih Percaya Diri

Peringatan 705 tahun Gowa adalah panggilan bagi para pengusaha dan pelaku UMKM untuk naik kelas. Bukan hanya berkembang secara bisnis, tetapi tampil sebagai representasi terbaik dari karakter masyarakat Gowa.

Personal branding adalah jembatan antara potensi lokal dan peluang global.
Ia adalah cara bagi pengusaha untuk mengkomunikasikan kualitas, komitmen, dan nilai-nilai yang mereka bawa. Di era persaingan ketat seperti sekarang, pengusaha yang kuat branding-nya akan lebih mudah diterima, dihargai, dan diingat.

Momentum emas ini harus dimanfaatkan.
Karena masa depan ekonomi Gowa bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak usaha berdiri, tetapi seberapa kuat identitas dan kepercayaan publik yang dibangun oleh para pelaku usahanya.

Selamat Hari Jadi Kabupaten Gowa ke-705.
Mari kita jadikan momen ini sebagai langkah besar bagi UMKM dan pengusaha lokal untuk semakin maju, semakin percaya diri, dan semakin bersinar.

Gowa Bersama Maju dan Sejahtera.

The post 705 Tahun Gowa: Momentum Emas bagi Pengusaha dan UMKM Menguatkan Personal Branding appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/705-tahun-gowa-momentum-emas-bagi-pengusaha-dan-umkm-menguatkan-personal-branding/feed/ 0
Warna Lokal Gowa untuk Indonesia, Sebuah Renungan 705 Tahun https://teraskota.info/warna-lokal-gowa-untuk-indonesia-sebuah-renungan-705-tahun/ https://teraskota.info/warna-lokal-gowa-untuk-indonesia-sebuah-renungan-705-tahun/#respond Sun, 16 Nov 2025 13:55:01 +0000 https://teraskota.info/?p=2720 Setiap tahun, peringatan Hari Jadi Kabupaten Gowa bukan sekadar seremoni yang diulang dengan kemeriahan yang sama. Ia adalah ruang refleksi yang menautkan ingatan sejarah, identitas budaya, dan arah masa depan. Pada usia ke-705 tahun ini, Gowa bukan hanya menandai panjangnya usia sebuah daerah, tetapi merayakan perjalanan sebuah entitas politik, sosial, dan budaya yang telah memberi […]

The post Warna Lokal Gowa untuk Indonesia, Sebuah Renungan 705 Tahun appeared first on Teraskota.info.

]]>
Setiap tahun, peringatan Hari Jadi Kabupaten Gowa bukan sekadar seremoni yang diulang dengan kemeriahan yang sama. Ia adalah ruang refleksi yang menautkan ingatan sejarah, identitas budaya, dan arah masa depan. Pada usia ke-705 tahun ini, Gowa bukan hanya menandai panjangnya usia sebuah daerah, tetapi merayakan perjalanan sebuah entitas politik, sosial, dan budaya yang telah memberi warna penting bagi perjalanan Indonesia.

Gowa adalah daerah yang tidak lahir dari kebetulan sejarah. Ia tumbuh dari kearifan para Karaeng, berkembang melalui kerja kolektif masyarakat, dan bertahan dari gelombang zaman melalui daya lenting budaya yang kuat. Dalam lingkup peradaban Nusantara, Gowa telah menunjukkan dirinya sebagai pusat energi, energi perdagangan, energi diplomasi, energi keberanian, dan energi peradaban.

Di momen peringatan ke-705 tahun ini, kita perlu menengok kembali bagaimana warna lokal Gowa dapat terus memberi kontribusi bagi Indonesia yang semakin kompleks dan penuh tantangan.

Gowa dalam Bentangan Sejarah, Dari Lokal Menuju Nasional

Sejarah mencatat, Gowa pernah menjadi kerajaan maritim yang disegani di Asia Tenggara. Kedudukannya yang strategis menjadikannya simpul perdagangan, pusat pertumbuhan ekonomi, dan ruang perjumpaan berbagai bangsa. Tidak sedikit nilai-nilai yang lahir dari masa itu dan masih menjadi pijakan masyarakat hingga hari ini.

Kekokohan Benteng Somba Opu, keteguhan Sultan Hasanuddin, kebijaksanaan Karaeng Pattingalloang, serta tradisi siri’ na pacce adalah bagian dari identitas kuat yang membentuk karakter masyarakat Gowa. Identitas ini bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi modal sosial, ia membentuk integritas, solidaritas, dan etos kerja masyarakat.

Dalam skala nasional, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari mozaik kebangsaan Indonesia. Sejarah Gowa adalah bagian dari sejarah Indonesia. Peradaban Makassar Gowa bukan pinggiran, tetapi salah satu urat nadi penting pembentukan karakter bangsa.

Warna Lokal yang Menguatkan Nasional

Ketika banyak bangsa di dunia menghadapi disorientasi nilai, globalisasi yang menggerus identitas, dan politik yang semakin mengeras, Gowa justru memiliki kekuatan untuk tetap berdiri teguh melalui nilai lokalnya.

Pertama, nilai keberanian.
Gowa adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Warisan ini hari ini dimaknai ulang bukan untuk melawan dengan kekerasan, tetapi untuk berani membela kepentingan rakyat, membela kebenaran, serta berani berinovasi dalam pembangunan.

Kedua, nilai persatuan.
Tradisi sipakatau, sipakalabbi, sipakainga adalah prinsip sosial yang menciptakan harmoni. Indonesia membutuhkan teladan seperti ini di tengah meningkatnya polarisasi sosial.

Ketiga, nilai kejujuran dan martabat.
Siri’ bukan sekadar harga diri, tetapi integritas moral. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan yang bersih dan transparan adalah wujud modern dari siri’.

Keempat, nilai gotong royong.
Gowa memiliki rekam jejak komunitas yang kuat, dari lembaga adat hingga struktur sosial kampung. Di tengah modernisasi dan digitalisasi, kekuatan kolektif ini menjadi modal sosial yang menahan rapuhnya individualisme.

Warna-warna lokal ini tidak hanya relevan bagi Gowa, tetapi menjadi kontribusi penting bagi terbangunnya karakter nasional yang kokoh.

Gowa Hari Ini, Momentum Memperkuat Kolaborasi

Pada usia 705 tahun, Gowa berada pada momentum strategis. Pembangunan infrastruktur terus melaju, ekonomi daerah bertumbuh, pendidikan dan kesehatan membaik, dan sektor pariwisata mulai bangkit dengan kuatnya potensi budaya dan alam.

Namun daerah ini juga menghadapi tantangan: transformasi ekonomi digital, perubahan iklim, ketimpangan pembangunan desa kota, hingga kebutuhan peningkatan kualitas SDM. Dalam menghadapi itu semua, tidak ada aktor yang bisa berdiri sendiri. Pemerintah daerah, DPRD, para pemangku adat, akademisi, pelaku usaha, serta masyarakat harus memperkuat kolaborasi.

Semangat Gowa Bersama Maju dan Sejahtera, tema yang merefleksikan visi kebersamaan harus diterjemahkan ke dalam kebijakan dan tindakan nyata:

• Pemerintah memperkuat layanan dan tata kelola yang profesional.

• DPRD memastikan regulasi berpihak pada rakyat serta pengawasan berjalan efektif.

• Dunia usaha berinvestasi sekaligus menjaga tanggung jawab sosial.

• Masyarakat memperkuat partisipasi serta menjaga harmoni sosial.

Pembangunan bukan semata kerja pemerintah, tetapi kerja bersama seluruh elemen masyarakat.

Merawat Jati Diri, Menjemput Masa Depan

Perjalanan panjang Gowa hingga usia 705 tahun membuktikan bahwa sebuah daerah bisa bertahan dan berkembang ketika ia memiliki identitas kuat dan visi masa depan yang jelas. Identitas itu harus dirawat, tapi tidak boleh membuat kita terkungkung pada masa lalu. Sebaliknya, warisan Gowa harus menjadi lompatan untuk masa depan.

Ke depan, Gowa perlu terus memperkuat:

• Transformasi ekonomi berbasis digital dan pariwisata budaya.

• Pemberdayaan desa sebagai pusat pertumbuhan baru.

• Pendidikan yang adaptif untuk mencetak generasi kompetitif.

• Pelestarian budaya agar tidak hilang ditelan modernisasi.

• Penguatan ekonomi hijau sebagai jawaban atas perubahan iklim.

Gowa yang maju tidak pernah melupakan akarnya, tetapi juga tidak takut melangkah menuju peradaban masa depan.

Penutup: Gowa untuk Indonesia

Pada momen istimewa usia 705 tahun ini, Gowa kembali mengingatkan Indonesia bahwa lokal dan nasional bukan dua kutub yang bertentangan. Keduanya adalah bagian dari bangunan besar peradaban bangsa.

Warna lokal Gowa adalah warna Indonesia.
Nilai-nilainya adalah nilai kebangsaan.
Dan perjalanan panjangnya adalah bagian dari perjalanan republik.

Semoga Gowa semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, dan warisan budayanya semakin memberi inspirasi bagi Indonesia yang lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih bermartabat.

Selamat Hari Jadi Kabupaten Gowa ke-705.
Gowa Bersama Maju dan Sejahtera.

The post Warna Lokal Gowa untuk Indonesia, Sebuah Renungan 705 Tahun appeared first on Teraskota.info.

]]>
https://teraskota.info/warna-lokal-gowa-untuk-indonesia-sebuah-renungan-705-tahun/feed/ 0