Pengamat Kebijakan Publik dan Budaya H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung Apresiasi Gelar Kepahlawanan untuk Jenderal (Purn) Andi Muhammad Jusuf Amir

  • Bagikan
Jenderal M. Jusuf

TERAS, GOWA – Pengamat kebijakan publik dan budaya, H. Hiyar Abdi Daeng Nuntung, memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, atas rencana pemberian gelar kepahlawanan kepada Almarhum Jenderal (Purn) Andi Muhammad Jusuf Amir.

Pernyataan tersebut disampaikan Hiyar selepas mendengar kabar bahwa negara akan memberikan penghormatan resmi kepada salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan yang telah mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara.

“Ini bentuk kebanggaan selaku masyarakat Sulawesi Selatan, bentuk perhatian negara kepada sosok tersebut. Wajar karena sudah berkorban untuk bangsa dan negara. Semoga pengabdian beliau bernilai ibadah di sisi Allah SWT,” ujar Hiyar.

Jenderal M. Jusuf

Berikut ini adalah biografi lengkap dan rekam jejak Jenderal M. Jusuf, yang banyak diingat sebagai tokoh militer sekaligus negarawan asal Sulawesi Selatan.

Jenderal M. Jusuf lahir di Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1928 dari keluarga bangsawan suku Bugis. Ia dikenal dengan nama lengkap Andi Muhammad Jusuf Amir. Sebagai keturunan bangsawan, pada masa muda ia menggunakan gelar “Andi”, namun kemudian melepasnya sebagai bentuk kesederhanaan.

Keluarganya berasal dari lingkungan Bugis Makassar yang menjunjung tinggi nilai keberanian, kejujuran, dan gotong-royong nilai‐nilai yang kemudian menjadi ciri kepemimpinannya.

Ia memulai karier militernya ketika masih muda, ikut dalam perjuangan kemerdekaan dan kemudian mengikuti pendidikan militer. Beberapa pengalaman dan jabatan pentingnya antara lain:

Menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Diangkat menjadi Panglima ABRI (sekarang TNI) pada tahun 1978 menggantikan Jenderal Maraden Panggabean.

Jenderal M. Jusuf

Selama masa jabatan Panglima, ia dikenal sangat memperhatikan kesejahteraan prajurit, memperbaiki kondisi pangkalan dan asrama, dan turun langsung ke barak-barak untuk mendengar keluhan anggota.

Baca Juga  Pererat Silaturahmi Di Bulan Ramadhan, Alumni SMAN 8 Makassar Angkatan 1993 Gelar Buka Puasa Bersama

Selain karier militer, Jenderal M. Jusuf juga terjun ke pemerintahan. Ia pernah menduduki jabatan sebagai Menteri Perindustrian dan jabatan lainnya dalam kabinet masa Orde Lama dan Orde Baru.

Sikapnya yang tegas, jujur, dan sederhana membuatnya menjadi figur yang dihormati baik dalam kalangan militer maupun sipil.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang hidup sederhana, tidak tergiur dengan kemewahan jabatan.

Menjunjung etika Bugis Makassar, khususnya konsep “malempu” (kejujuran) dan “ampe” (watak/etika), dalam kepemimpinannya.

Cinta kepada prajurit: banyak kisah bahwa ia lebih sering berada di tengah prajurit daripada di ruang kerja mewah.

Sebagai salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan, Jenderal M. Jusuf meninggalkan warisan nilai kepemimpinan, keberanian, dan pelayanan yang tulus untuk bangsa.
Pemberian gelar kepahlawanan untuk beliau, menurut Hiyar Abdi Daeng Nuntung, ialah pengakuan negara atas pengorbanan dan dedikasi beliau, bukan hanya bagi militer, tapi juga bagi seluruh warga bangsa.

Sebagai pengamat, saya melihat langkah ini sangat tepat. Negara memberi penghargaan kepada sosok yang selama hidupnya mengabdi tanpa pamrih. Ini juga mengangkat kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan bahwa salah satu putranya diterima dan diakui secara nasional.”

“Semoga dengan gelar kepahlawanan ini, generasi muda terinspirasi untuk mengikuti jejak beliau, tidak hanya dalam militer, tetapi dalam semangat pengabdian kepada bangsa dan menjaga budaya kita.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *