TERAS, GOWA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gowa menggelar rangkaian “Semarak Hari Jadi Gowa ke-705” di Sekretariat PWI Gowa, Kompleks GOR Bulutangkis (Samping Lap. Syekh Yusuf), Minggu, 7 Desember 2025. Acara berlangsung meriah tapi ada juga nuansa seriusnya ketika dua narasumber utama memaparkan perubahan besar dalam dunia media. Wartawan senior Abel Usman ikut hadir, menjadi magnet kuat bagi para jurnalis muda.
Sejak sore, kegiatan dibuka dengan lomba karya jurnalistik dan domino antar wartawan. Namun perhatian tertuju pada diskusi tematik yang menyajikan gugatan kritis terhadap sistem media yang dianggap tertinggal menghadapi derasnya gelombang digital.
Bung Ciwang, salah satu narasumber, menyinggung tajam persoalan efisiensi yang kini menjadi poros kerja sama antara media dan mitra eksternal. “Tidak ada kerja sama tanpa melihat efisiensi. Ini harus menjadi motivasi untuk terus beradaptasi,” katanya. Ia menggambarkan bagaimana media konvensional perlahan tersingkir oleh kecepatan media online. “Televisi dan koran dibatasi aturan, biaya produksi, hingga perizinan. Online jauh lebih lincah.”
Ciwang turut menyoroti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang menurutnya tak lagi memadai untuk ekosistem informasi digital. “Ketika media diperhadapkan dengan tekanan zaman, pilihan terbaik adalah tetap mengekspresikan jurnalisme yang beridealisme,” ujarnya.
Pandangan berbeda namun senada datang dari narasumber kedua, Abah Ong. Ia menyebut jurnalisme bukan mati yang mati justru sistem lamanya. “Kita tidak bisa mengandalkan cara lama untuk menjawab disrupsi hari ini,” katanya. Media, menurutnya, harus keluar dari jebakan rutinitas berita standar. Konten mesti bergerak lintas platform. “Saya memanfaatkan AI seperti ChatGPT untuk mengolah ulang berita menjadi caption Instagram atau reels. Pendek, menghibur, tapi edukatif.”
Abah Ong juga menegaskan bahwa kebutuhan visual di media sosial tak bisa disamakan dengan foto jurnalistik portal berita. “Adaptasi bukan pilihan, tapi kebutuhan pokok,” ujarnya.
PLT Ketua PWI Gowa, Andi Baso, mengakui kedua narasumber telah menyinggung persoalan yang selama ini membayangi ruang redaksi banyak media daerah. “Saya sampai bingung mau menambahkan apa. Hampir semuanya sudah mereka sampaikan,” katanya. Ia mengingatkan bahwa platform digital seperti Instagram, Facebook, dan X kini menjadi medan baru yang tak bisa dihindari. “Kalau kita ketinggalan teknologi, kita gugur dengan sendirinya.”
Di sela acara, Direktur Utama Media TERAS KOTA, Musa Khadar Khan yang juga Anggota PWI Sulsel Angkatan UKW 2024 menyempatkan diri untuk hadir memberikan apresiasi dengan kehadiran wartawan senior Abel Usmanji. Ia menyebut Abel sebagai figur yang tenang dan bijak dalam bertutur. “Beliau itu sosok yang santun dan berhati-hati dalam berbicara. Kehadirannya memberi energi bagi jurnalis muda,” katanya.
“Beliau itu seperti kelapa, makin tua makin jadi,”tambahnya
Ia juga menilai keberhasilan rangkaian acara tak lepas dari kerja keras panitia. “Suksesnya acara ini adalah bukti soliditas rekan-rekan wartawan di Gowa,” ujarnya.
Rangkaian Semarak Hari Jadi Gowa ke-705 ini menjadi pengingat bahwa jurnalisme tengah berada di persimpangan besar, antara mempertahankan idealisme atau tenggelam dalam derasnya arus transformasi digital.
Di ruang diskusi kecil itu, satu pesan mengemuka jurnalis harus terus bergerak, atau hilang ditelan zaman.










