Oleh: Danial Malik
“Bagaimana Golkar tetap besar dan relevan di tengah dinamika politik yang penuh tantangan”
Enam puluh satu tahun perjalanan Partai Golongan Karya adalah kisah tentang seni bertahan dalam dunia politik yang terus berubah. Dari masa dominasi Orde Baru hingga tekanan reformasi, Golkar tetap hidup dan beradaptasi. Partai ini telah membuktikan bahwa kekuatan sejatinya bukan hanya pada mesin politik, tetapi pada kemampuan membaca arah zaman. Perjalanan panjang ini berawal dari ide mendasar Golkar untuk menghimpun kekuatan masyarakat yang ingin berkontribusi bagi bangsa.
Didirikan pada 20 Oktober 1964, Golkar lahir dari gagasan untuk menghimpun kekuatan fungsional masyarakat para profesional, pekerja, dan pelaku pembangunan yang ingin berkontribusi bagi negara tanpa terjebak dalam pertarungan ideologi. Sejak awal, orientasinya bukan pada perebutan kekuasaan, melainkan pada karya dan stabilitas. Namun dalam perjalanannya, Golkar tumbuh menjadi mesin politik paling solid di negeri ini, kekuatan strukturalnya membuat partai mampu bertahan, sekaligus memunculkan dilema klasik antara kekuasaan dan pengabdian.
Pada masa Orde Baru, Golkar menjadi motor pembangunan sekaligus alat stabilitas. Namun dominasi itu juga menimbulkan kritik terhadap sempitnya ruang demokrasi. Reformasi 1998 menjadi titik balik yang paling menentukan. Ketika kekuasaan lama runtuh, banyak yang memperkirakan Golkar akan ikut terseret. Tapi partai ini justru mampu menata diri dan menemukan bentuk baru. Kondisi ini menegaskan pentingnya ketahanan partai, sebagaimana ditegaskan Prof. Firman Noor.
Menurut Prof. Firman Noor, peneliti politik senior BRIN, daya hidup Golkar setelah reformasi adalah contoh klasik political adaptability. Golkar, katanya, “bukan hanya bertahan karena struktur, tetapi karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan kekuasaan tanpa kehilangan identitas organisasi.” (Tempo, 2022). Pandangan ini menegaskan bahwa ketahanan Golkar adalah hasil dari kemampuan bertransformasi tanpa kehilangan akar kekaryaan.
Ketokohan yang nyata terlihat pada kepemimpinan Akbar Tandjung, yang mampu menjadi navigator ulang dan membawa Golkar keluar dari tekanan masa reformasi. Dengan kepemimpinan yang tenang dan rasional, Akbar menata kembali arah serta citra partai di tengah gelombang perubahan. Ia menunjukkan bahwa daya tahan politik tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari kemampuan menjaga kepercayaan publik dan membaca momentum.
Sementara itu, tokoh perempuan Siti Hardianti Indra Rukmana, yang sering disapa Mbak Tutut, menghadirkan keteladanan yang konsisten pada nilai kekaryaan kedisiplinan, kepedulian, dan konsistensi yang menjembatani generasi lama dan semangat baru politik Golkar.
Kini, di tengah politik yang semakin pragmatis, tantangan Golkar bukan lagi sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan meneguhkan relevansi. Partai ini dituntut tampil sebagai jangkar rasionalitas di tengah politik yang kerap terjebak pada citra dan transaksionalitas. Kematangan politik sejati diukur bukan dari lamanya bertahan, tetapi dari keberanian berubah tanpa kehilangan prinsip.
Melihat perjalanan panjang ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa seni bertahan dalam politik bukan hanya soal strategi, melainkan soal karakter dan nilai yang mampu melampaui perubahan kekuasaan. Dalam dunia politik yang terus bergeser, daya tahan sejati lahir dari konsistensi pada prinsip dan kemampuan membaca arah zaman, dua hal yang terus diuji seiring usia partai yang kian matang.










